
BANGLI, BALIPOST.com – Desa Adat Penglipuran membangun Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) untuk mengelola sampah dari aktivitas pariwisata yang mencapai 1,5 ton per hari. Fasilitas tersebut dibangun agar sampah tidak lagi dibuang ke TPA, melainkan diolah mandiri di desa.
Saat ini, mesin-mesin di TPS3R Penglipuran telah diuji coba dan ditargetkan beroperasi penuh tahun ini. Pengelolaannya dilakukan bekerja sama dengan Yayasan Budaya Bali Punggul Hijau.
Ketua BUPDA Desa Adat Penglipuran I Wayan Sumiarsa, Sabtu (5/9) mengungkapkan keberadaan TPS3R tidak hanya disiapkan untuk mengurangi sampah yang dibawa keluar dari Penglipuran. Lebih dari itu TPS3R juga dirancang menjadi bagian dari wisata edukasi. Wisatawan bisa melihat dan belajar pengolahan sampah secara langsung di TPS3R.
Melalui fasilitas TPS3R ini, berbagai jenis sampah akan diolah menjadi produk bernilai guna. Sampah plastik akan didaur ulang menjadi cinderamata seperti gantungan kunci berbentuk angkul-angkul khas Penglipuran. Hasilnya bisa dibawa pulang wisatawan. “Konsepnya bawa sampah ke sini, nanti pulang bawa suvenir,” ungkapnya.
Sementara sampah organik diproses menjadi pupuk organik untuk pertanian warga dan kebun sayur di area TPS3R. Sedangkan sampah residu akan diproses menjadi produk lain, seperti paving, pot bunga dan lainnya.
Ketua Yayasan Budaya Bali Punggul Hijau I Gusti Nyoman Jelantik memastikan seluruh jenis sampah dapat ditangani di TPS3R Penglipuran. Sampah organik dan anorganik dipilah menggunakan mesin reduce. Sampah residu dibakar menggunakan mesin BARES (Bakar Residu) yang dilengkapi filter penangkap asap sehingga bebas polusi. Abu pembakaran tersebut kemudian dimanfaatkan untuk bahan baku paving dan pot bunga.
Dia menambahkan, khusus sampah botol plastik tidak diproses di lokasi, melainkan disalurkan ke bank sampah. Hal itu dimaksudkan agar tetap memberi manfaat ekonomi bagi warga sekitar. (Dayu Swasrina/balipost)










