
DENPASAR, BALIPOST.com – Pemerintah Provinsi Bali bersama Pemerintah Kabupaten Badung dan PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI menindaklanjuti rencana pengembangan transportasi perkeretaapian di Bali. Moda yang disiapkan berupa trem listrik berbasis baterai yang dirancang menghubungkan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai dengan kawasan Canggu, Kabupaten Badung.
Kerja sama pengembangan perkeretaapian tersebut ditandatangani di Gedung Kertasabha, Denpasar, Selasa (1/9). Penandatanganan dihadiri Gubernur Bali, Wayan Koster, Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa, Direktur Utama PT KAI Bobby Rasyidin, CEO Angkasa Pura, Sekda Kabupaten Badung serta sejumlah pihak terkait.
Pengembangan trem ini menjadi tindak lanjut atas usulan Kementerian PPN/Bappenas bersama Pemprov Bali untuk memperbaiki fasilitas dan sistem transportasi di Bali, khususnya di wilayah Kabupaten Badung yang menghadapi persoalan kepadatan lalu lintas.
PT KAI memilih konsep trem, bukan moda Mass Rapid Transit (MRT) maupun Light Rail Transit (LRT). Trem dinilai lebih sesuai dengan karakteristik dan kondisi Bali karena ukurannya relatif kecil, tingkat kebisingannya rendah, ramah lingkungan, serta dapat diintegrasikan dengan sistem transportasi lainnya.
Moda tersebut menggunakan teknologi baterai sehingga tidak memerlukan kabel listrik di sepanjang jalur. Selain aspek teknologi, pengembangan trem juga diarahkan untuk menyesuaikan karakteristik dan kearifan lokal Bali.
Koridor Bandara–Canggu dipilih karena memiliki tingkat mobilitas yang sangat tinggi. Setiap hari diperkirakan sekitar 150 ribu orang bergerak di kawasan tersebut dengan jumlah kendaraan mencapai sekitar 80 ribu unit.
Kondisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan utama perlunya moda transportasi massal baru. Kehadiran trem diharapkan dapat mengurangi kepadatan kendaraan, meningkatkan mobilitas masyarakat, memperkuat konektivitas kawasan pariwisata serta mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan pribadi.
Trase awal trem dirancang sepanjang sekitar 12 kilometer, menghubungkan kawasan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai dengan Canggu. Jalur disiapkan menggunakan dua lintasan dan dilengkapi area persilangan untuk mendukung kelancaran operasional.
Lebar trase diperkirakan sekitar tiga meter, sedangkan dimensi trem sedikit di atas dua meter. Dengan ukuran tersebut, trem relatif kecil, bahkan lebih kecil dibandingkan bus.
Dari sisi kapasitas, trem diproyeksikan mampu mengangkut sekitar 15.000 hingga 20.000 penumpang dalam kondisi maksimal. Waktu tempuh Bandara–Canggu diperkirakan sekitar 30 menit dengan jeda keberangkatan antartrem sekitar 10 menit.
Jika beroperasi secara maksimal, kapasitas angkut diproyeksikan mencapai sekitar 60.000 penumpang per hari. Angka tersebut diharapkan dapat mengakomodasi sekitar 40 persen kepadatan mobilitas pada koridor Bandara–Canggu.
Gubernur Koster mengatakan kerja sama tersebut merupakan langkah konkret untuk menjawab persoalan transportasi, terutama kemacetan di kawasan Badung. Konsep trem Bandara–Canggu, menurutnya, kini semakin konkret untuk dikembangkan sebagai salah satu solusi transportasi massal di Bali.
Namun, Gubernur Koster menegaskan pembangunan infrastruktur transportasi di Bali tidak boleh hanya berorientasi pada aspek teknologi. Setiap pembangunan harus memperhatikan keunikan Bali, keindahan lingkungan, kebutuhan pariwisata serta kehidupan masyarakat.
“Pengembangan transportasi harus tetap memperhatikan keunikan Bali, menjaga keindahan Bali, mendukung pariwisata dan tidak mengganggu kehidupan masyarakat,” tandasnya.
Ia mengatakan pembangunan trem harus memperhatikan keberadaan hotel, akomodasi wisata, objek pariwisata, lingkungan, permukiman serta kehidupan masyarakat di sepanjang trase. Kenyamanan wisatawan juga harus tetap menjadi perhatian.
“ Kenyamanan wisatawan harus tetap dijaga. Keberadaan trem justru diharapkan dapat menjadi daya tarik baru bagi pariwisata Bali,” kata Koster.
Menurutnya, trem yang dikembangkan bukan sekadar moda transportasi baru, tetapi harus menjadi bagian dari sistem transportasi Bali yang selaras dengan identitas daerah. Karena itu, aspek budaya, lingkungan dan kearifan lokal perlu diperhatikan sejak tahap perencanaan hingga pengoperasian.
Direktur Utama PT KAI, Bobby Rasyidin mengatakan Bali dipandang sebagai wilayah strategis yang memiliki keluhuran budaya, spiritualitas, jati diri masyarakat dan kehidupan sosial yang khas. Karena itu, pembangunan infrastruktur transportasi di Bali harus dilakukan secara hati-hati.
“Infrastruktur transportasi harus dikembangkan secara hati-hati. Kemajuan teknologi tidak boleh menghilangkan identitas dan harmoni Bali,” kata Bobby.
Ia mengatakan aspek budaya, lingkungan dan kehidupan masyarakat lokal menjadi pertimbangan dalam perencanaan pengembangan trem. Pemanfaatan teknologi baterai juga menjadi bagian dari upaya menekan dampak lingkungan sekaligus mengurangi kebisingan.
Dengan karakter tersebut, trem diharapkan dapat memberikan kenyamanan bagi masyarakat maupun wisatawan tanpa mengubah karakter kawasan yang dilalui.
Setelah penandatanganan kerja sama, tahapan selanjutnya mencakup studi teknis dan penyusunan kajian lanjutan. Pemerintah dan pihak terkait juga akan melakukan sosialisasi kepada masyarakat, melibatkan desa adat, serta berkoordinasi dengan pelaku pariwisata, hotel dan akomodasi wisata maupun pemangku kepentingan lainnya.
Pembangunan fisik atau groundbreaking ditargetkan mulai Maret 2027. Trase pertama ditargetkan mulai beroperasi pada 2028, sedangkan seluruh jalur hingga Canggu ditargetkan selesai dan beroperasi pada 2029.
Pengembangan trem listrik Bandara–Canggu tersebut diharapkan menjadi salah satu langkah untuk membangun sistem transportasi massal yang mampu menjawab tingginya mobilitas di kawasan Badung, sekaligus tetap menjaga lingkungan, kenyamanan, budaya dan identitas Bali. (kmb/balipost)










