
DENPASAR, BALIPOST.com – Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Bali, Achris Sarwana menyebutkan, penguatan keyakinan konsumen di Bali pada Juli 2026 tidak hanya ditopang membaiknya persepsi terhadap penghasilan dan lapangan kerja, tetapi juga oleh terjaganya daya beli masyarakat.
Bank Indonesia Provinsi Bali menilai stabilitas harga menjadi salah satu fondasi penting yang menjaga konsumsi masyarakat tetap kuat.
Pada Juli 2026, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Bali meningkat menjadi 126,3, dari 121,5 pada Juni. Angka tersebut juga jauh lebih tinggi dibandingkan IKK nasional yang tercatat sebesar 116,8.
Bank Indonesia Provinsi Bali terus memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah melalui Tim Percepatan Pertumbuhan Ekonomi Daerah (TP2ED) dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi sekaligus mempertahankan daya beli masyarakat.
Achris Sarwani di Denpasar, Kamis (20/8) mengatakan kolaborasi dengan pemerintah daerah dilakukan melalui berbagai langkah pengendalian inflasi. Di antaranya operasi pasar, pemantauan harga komoditas strategis, serta penguatan kelancaran distribusi pangan.
Langkah tersebut menjadi penting karena stabilitas harga berpengaruh langsung terhadap kemampuan masyarakat mempertahankan konsumsi. Ketika pasokan pangan terjaga dan tekanan harga terkendali, ruang konsumsi masyarakat menjadi lebih kuat.
Kondisi harga yang kondusif tersebut turut menopang penguatan persepsi konsumen pada Juli. Hal ini tercermin dari meningkatnya Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) menjadi 122,3, dari 119,3 pada Juni 2026.
Salah satu komponen IKE yang menguat adalah indeks konsumsi barang kebutuhan tahan lama yang mencapai 106,5. Sementara indeks penghasilan saat ini dibandingkan enam bulan sebelumnya mencapai 128,5 dan indeks ketersediaan lapangan kerja mencapai 132,0.
Dari sisi ekspektasi, konsumen juga semakin optimistis. Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) mencapai 130,3, naik 5,4 persen dibandingkan Juni yang sebesar 123,7.
BI Bali menilai penguatan keyakinan masyarakat tersebut sejalan dengan akselerasi ekonomi Bali pada triwulan II 2026 yang tumbuh 5,78 persen (yoy). Pertumbuhan ini meningkat dibandingkan triwulan I sebesar 5,58 persen dan berada di atas pertumbuhan nasional sebesar 5,29 persen.
Aktivitas pariwisata, perdagangan, konstruksi dan pertanian turut memberikan dorongan terhadap perekonomian. Aktivitas masyarakat selama liburan sekolah serta rangkaian hari raya keagamaan juga ikut menopang kegiatan ekonomi dan membuka peluang usaha serta penyerapan tenaga kerja.
Ke depan, BI Bali akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah dan pemangku kepentingan untuk menjaga stabilitas harga sekaligus mempercepat pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Dari sisi kebijakan moneter, Bank Indonesia menetapkan BI-Rate sebesar 5,75 persen, Deposit Facility 4,75 persen dan Lending Facility 6,50 persen.
Sinergi kebijakan tersebut diharapkan mampu menjaga inflasi tetap rendah dan stabil sehingga daya beli masyarakat tetap terjaga. Dengan demikian, konsumsi rumah tangga dan aktivitas ekonomi Bali memiliki fondasi yang lebih kuat untuk mempertahankan momentum pertumbuhan pada periode berikutnya. (Suardika/balipost)










