
SINGARAJA, BALIPOST.com – Seorang bocah berusia tujuh tahun asal Banjar Dinas Kajanan, Desa Bubunan, Kecamatan Seririt, meninggal dunia dengan diagnosis suspek rabies, Jumat (7/8). Bocah tersebut sebelumnya digigit anjing peliharaan sendiri sekitar dua bulan sebelum akhirnya menunjukkan gejala yang mengarah pada rabies.
Kepala Dinas Kesehatan (Diskes) Buleleng, dr. Sucipta, dikonfirmasi, Minggu (9/8), mengatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan pihak RSUD Kabupaten Buleleng dan Pemerintah Desa Bubunan terkait kasus tersebut. Bedah kasus juga telah dilakukan untuk memastikan kronologi dan indikasi kematian korban.
Korban diketahui bernama Gede Eka Wijaya Putra. Ia memiliki riwayat gigitan anjing pada bagian betis kaki kiri sekitar awal Juni 2026. Namun, setelah kejadian tersebut, korban tidak dibawa ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan Vaksin Anti Rabies (VAR).
“Korban tidak mendapatkan VAR karena tidak melapor, baik itu ke fasilitas kesehatan, staf desa atau Tisira Desa, maupun ke Puskeswan. Sehingga kami tidak mengetahui adanya kejadian gigitan tersebut,” kata Sucipta.
Anjing yang menggigit korban merupakan anjing peliharaan keluarga korban. Anjing lokal Bali tersebut telah dipelihara sekitar satu tahun dan dilepasliarkan. Setelah menggigit korban, anjing tersebut dibunuh oleh ayah korban karena khawatir kembali menggigit orang lain.
Namun, anjing tersebut tidak dilaporkan ke Puskeswan. Hewan itu kemudian dikuburkan sehingga tidak sempat dilakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan status rabiesnya.
Dari data, sekitar dua bulan setelah kejadian gigitan, kondisi korban mulai menurun. Pada Kamis (6/8), korban mengalami nyeri pada kaki kiri, demam, serta penurunan nafsu makan. Korban sempat dibawa berobat ke bidan dan mendapatkan vitamin serta obat penurun demam.
Pada malam harinya, korban disebut banyak berkeringat saat tidur. Kondisi kemudian semakin mengkhawatirkan. Jumat (7/8) sekitar pukul 11.45 WITA, keluarga membawa korban ke RSUD Tangguwisia.
Saat tiba di rumah sakit, korban mengalami gelisah, takut air (hidrofobia), takut angin atau AC (aerofobia), serta terus mengeluarkan air liur atau hipersalivasi. Berdasarkan kondisi klinis tersebut, korban didiagnosis suspek rabies.
Korban sempat mendapatkan penanganan medis berupa cairan infus dan obat penurun demam serta dikonsultasikan kepada dokter spesialis saraf. Selanjutnya, korban dirujuk ke RSUD Kabupaten Buleleng.
Korban tiba di RSUD Kabupaten Buleleng sekitar pukul 15.30 WITA. Rencananya korban akan diisolasi di Ruang Sandat. Namun, sekitar pukul 17.31 WITA, korban dinyatakan meninggal dunia di IGD di hadapan keluarga dan perawat.
“Berdasarkan surat keterangan kematian, diagnosis akhir korban tercatat Obs Dilirium ec Suspek Rabies. Kendati demikian, pemeriksaan laboratorium penunjang untuk memastikan rabies tidak dilakukan,” tambahnya.
Kasus ini kemudian berkembang setelah petugas melakukan penelusuran di sekitar lokasi. Hasil penelusuran menemukan sedikitnya enam warga lainnya yang diduga pernah digigit anjing yang sama.
Sucipta mengatakan keenam warga tersebut sebelumnya juga belum melaporkan kejadian gigitan. Penelusuran terhadap kemungkinan korban gigitan lainnya masih dilakukan bersama petugas kesehatan dan aparat desa.
“Dari hasil penelusuran didapatkan kurang lebih ada enam orang lainnya yang digigit anjing yang sama dan belum melapor. Ini sedang berusaha kami telusuri bersama teman-teman Dinkes dan aparat desa,” ujarnya.
Enam warga tersebut kini telah mendapatkan VAR di Puskesmas Seririt. Enam orang di antaranya mendapatkan VAR karena merupakan kontak erat dengan pasien suspek rabies.
Mereka yakni Kd Suadnyana (65), Kt Sardi (60), dan Kd Suartana (42). Sementara tiga warga lainnya, yakni Km Sridana Murti (41), Gd Edi Darma (41), dan Md Yogi (35), diketahui pernah mengalami gigitan langsung dari anjing yang sama.
Dinas Pertanian dan Peternakan Buleleng disebut sudah melakulan Vaksinasi selama sepekan pada minggu pertama Juli 2026. Sebanyak 430 ekor anjing berhasil mendapatkan vaksinasi.
Namun, selama kegiatan tersebut, petugas tidak mendapatkan informasi mengenai adanya warga yang digigit anjing yang kemudian diketahui menggigit korban dan beberapa warga lainnya.
“Di bulan Juli minggu pertama kebetulan kami juga melakukan vaksinasi rabies di Desa Bubunan selama satu minggu penuh dengan capaian vaksinasi 430 ekor. Selama melaksanakan vaksinasi pun kami tidak mendapatkan informasi terkait korban gigitan dengan nama tersebut,” jelasnya.
Saat ini, Dinas Kesehatan Buleleng berkoordinasi dengan Dinas Pertanian, Peternakan dan Ketahanan Pangan Buleleng, Kecamatan Seririt, Puskesmas wilayah Desa Bubunan, serta aparat desa untuk melakukan penelusuran lebih lanjut. (Yudha/balipost)










