
DENPASAR, BALIPOST.com – Dunia sastra dan kebudayaan Bali berduka. Maestro dongeng, penulis, pendidik, sekaligus pelestari permainan tradisional Bali, Made Taro, meninggal dunia pada Kamis (23/7), bertepatan dengan peringatan Hari Anak Nasional. Ia berpulang dalam usia 87 tahun setelah sebelumnya menjalani perawatan intensif di ruang ICU Rumah Sakit Bali Mandara selama lebih dari dua pekan.
Kabar duka tersebut disampaikan oleh sastrawan Bali, I Made Sujaya. Menurutnya, kepergian Made Taro menjadi kehilangan besar bagi dunia sastra, pendidikan, dan kebudayaan Bali.
“Pak Taro berpulang 23 Juli 2026, di usianya ke-87 tahun, dan tepat di Hari Anak Nasional. Sedih sekali pagi ini. Kita kehilangan panglingsir yang tiada lelah mengingatkan kita tentang sikap hidup ngijeng, tekun dengan jalan kata-kata, jalan pengabdian pada akar kebudayaan Bali: sastra,” ungkap I Made Sujaya, Kamis (23/7) pagi.
Sementara itu, menantu Made Taro, Maharini, menyampaikan bahwa hingga Kamis pagi jenazah masih berada di Rumah Sakit Bali Mandara sebelum dibawa ke rumah duka di Jalan Wirasatya, Suwung Kangin, Gang V Nomor 8, Denpasar.
“Untuk sementara jenazah masih di Rumah Sakit Bali Mandara. Untuk upacara ngaben, keluarga masih sedang melakukan rembug,” ujarnya.
Made Taro merupakan salah satu tokoh budaya Bali yang mendedikasikan hampir seluruh hidupnya bagi dunia anak melalui dongeng, lagu, dan permainan tradisional.
Lahir di Desa Sengkidu, Karangasem, pada 16 April 1939, ia mulai aktif mendongeng sejak 1973. Selama lebih dari lima dekade, ia konsisten berkeliling Bali bahkan ke berbagai daerah untuk membawakan dongeng yang sarat nilai moral, sambil memperkenalkan permainan tradisional sebagai media pembelajaran karakter.
Pada 1979, ia mendirikan Sanggar Kukuruyuk yang menjadi ruang pembinaan anak-anak melalui seni, dongeng, permainan tradisional, dan pendidikan karakter berbasis budaya Bali.
Selain dikenal sebagai pendongeng, Made Taro juga pernah berprofesi sebagai guru, mengajar di Australia, hingga menjadi narasumber berbagai pelatihan bagi guru PAUD dan TK untuk menghidupkan kembali permainan tradisional Bali di lingkungan pendidikan.
Dedikasinya terhadap pelestarian budaya mengantarkannya menerima berbagai penghargaan bergengsi, termasuk Anugerah Kebudayaan dari Presiden Republik Indonesia pada 2009.
Kesetiaan Made Taro terhadap tradisi lisan membuatnya dikenal sebagai maestro dongeng Bali. Bahkan di usia senja, semangat berkaryanya tidak pernah surut.
Sejak mulai mendongeng pada 1973 hingga melewati usia 85 tahun, ia tetap aktif tampil di berbagai kesempatan sambil terus menulis buku secara mandiri.
Setiap tahun ia menerbitkan sedikitnya dua buku dongeng dengan biaya pribadi, mulai dari proses penulisan, penerbitan hingga pemasaran.
Dalam tiga tahun terakhir saja, ia menerbitkan sejumlah karya, di antaranya Seni Tutur Sang Penolong (2022), Seni Tutur Aku Cinta Ayah Bunda (2022), Seni Tutur Dari Rumah Dongeng (2023), Seni Tutur Dongeng Masa Kini (2023), Seni Tutur Bali Berkisah (2024), hingga Dongengku Cerminku yang terbit pada April 2024.
Secara keseluruhan, Made Taro telah menghasilkan sedikitnya 54 buku yang sebagian besar berisi dongeng, cerita rakyat, permainan tradisional, serta lagu anak-anak Bali.
Bagi banyak kalangan, Made Taro bukan sekadar pendongeng. Ia merupakan penjaga tradisi lisan Bali yang menjadikan cerita sebagai sarana menanamkan nilai kejujuran, kebersamaan, kepedulian, serta kecintaan terhadap budaya sejak usia dini.
Hingga akhir hayatnya, Made Taro tetap mengampanyekan pentingnya membacakan cerita kepada anak-anak dan melestarikan permainan tradisional sebagai bagian dari pendidikan karakter.
Kepergiannya pada Hari Anak Nasional menjadi ironi sekaligus simbol kuat atas pengabdian seumur hidup seorang tokoh yang telah mengabdikan dirinya untuk dunia anak dan kelestarian budaya Bali. Warisan berupa puluhan buku, ribuan dongeng, serta semangat menjaga tradisi lisan diyakini akan terus hidup dan menginspirasi generasi penerus. (Ketut Winata/balipost)










