
DENPASAR, BALIPOST.com – Dunia seni dan budaya Bali kembali berduka. Maestro dongeng sekaligus pelestari sastra tutur anak-anak Bali, Made Taro, meninggal dunia pada Kamis (23/7/2026) dini hari sekitar pukul 01.30 WITA di RSUD Bali Mandara, Denpasar.
Almarhum berpulang dalam usia 87 tahun setelah hampir satu bulan menjalani perawatan akibat kelainan jantung.
Kabar duka tersebut dikonfirmasi Direktur RSUD Bali Mandara, dr. I Gusti Ngurah Putra Dharma Jaya, M.Kes. Menurutnya, Made Taro menghembuskan napas terakhir setelah mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit tersebut.
“Gih betul meninggal di RSUD Bali Mandara. Saat ini jenazah disemayamkan di Rumah Duka Dharma Yadnya,” ujar dr. I Gusti Ngurah Putra Dharma Jaya, Kamis (23/7).
Ia menjelaskan, kondisi kesehatan almarhum menurun akibat kelainan jantung yang dideritanya. Selama hampir satu bulan terakhir, Made Taro menjalani perawatan medis di RSUD Bali Mandara.
“Ada kelainan jantung. Dirawat di RSUD Bali Mandara hampir satu bulan,” terangnya.
Sementara itu, keponakan almarhum, Ni Made Gawati, mengungkapkan sebelum dirawat di ruang ICU, Made Taro sempat mengalami gangguan pada sistem pencernaan. Kondisinya kemudian terus menurun hingga akhirnya meninggal dunia pada Kamis dini hari.
“Beliau berpulang pukul 01.30 WITA, dini hari di RS Bali Mandara,” ujar Gawati.
Ia menambahkan, pada awalnya almarhum mengeluhkan sakit pada bagian perut sebelum kesehatannya semakin memburuk.
“Awalnya beliau mengalami gangguan di perut. Kemarin kondisi beliau tambah drop. Dan pagi tadi berpulang,” katanya.
Saat ini, jenazah Pekak Made Taro telah disemayamkan di Rumah Duka RSUD Dharma Yadnya. Pihak keluarga masih berkoordinasi untuk menentukan waktu pelaksanaan upacara pengabenan.
Menurut Gawati, sesuai amanah terakhir almarhum, rangkaian upacara ngaben hingga ngelanus akan dilaksanakan di Punduk Dawa.
“Untuk saat ini, jenazah Pekak Taro sudah disemayamkan di Rumah Duka Dharma Yadnya. Untuk kepastian tanggalnya masih nunggu informasi dari Punduk Dawa,” jelasnya.
Kepergian Made Taro menjadi kehilangan besar bagi Bali. Sosok yang dikenal sebagai maestro dongeng ini telah mendedikasikan sebagian besar hidupnya untuk melestarikan sastra tutur, permainan tradisional, dan pendidikan karakter anak melalui dongeng-dongeng berbahasa Bali.
Berkat dedikasinya, ia menjadi salah satu tokoh yang berjasa menjaga warisan budaya Bali agar tetap hidup dan dikenal lintas generasi.
Wafatnya Pekak Made Taro meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, para seniman, budayawan, pendidik, dan masyarakat Bali yang mengenalnya sebagai pribadi sederhana, penuh keteladanan, serta tak pernah lelah mengabdikan diri bagi pelestarian budaya Bali melalui dunia dongeng. (Ketut Winata/balipost)









