
SINGARAJA, BALIPOST.com – Di tengah meningkatnya biaya operasional akibat kenaikan harga bahan bakar, pajak, hingga melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, Perumda Swatantra Buleleng tetap optimistis mampu memenuhi target setoran Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebesar Rp1,5 miliar kepada Pemerintah Kabupaten Buleleng.
Hal tersebut terungkap dalam rapat bersama Komisi III DPRD Buleleng yang membahas Ranperda Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD Tahun Anggaran 2025 di ruang rapat gabungan DPRD Buleleng, Selasa (21/7).
Direktur Utama Perumda Swatantra Buleleng, I Gede Boby Suryanto, mengatakan bahwa pihaknya terus memperkuat kinerja perusahaan melalui tiga sektor usaha utama, yakni perkebunan, jasa penyewaan kendaraan, dan perdagangan pangan.
Menurutnya, sektor perkebunan yang telah dikelola sejak 1969 masih menjadi salah satu penopang usaha meski sangat bergantung pada kondisi iklim. Saat ini Perumda Swatantra mengelola lahan perkebunan seluas 82,43 hektare dengan komoditas utama kopi dan cengkeh serta tanaman pendukung seperti durian, alpukat, pisang, dan talas.
“Kami terus melakukan intensifikasi untuk meningkatkan produktivitas. Astungkara, meskipun ada fluktuasi karena faktor cuaca, kebun tetap berproduksi dan kami optimistis seluruh lahan bisa menghasilkan optimal,” ujarnya.
Di sektor jasa penyewaan kendaraan, Perumda Swatantra mencatat pertumbuhan yang signifikan. Jumlah armada yang semula 68 unit pada 2020 kini meningkat menjadi 104 unit kendaraan yang tersebar di berbagai instansi pemerintah, perguruan tinggi, hingga rumah sakit. “Peningkatan armada berdampak langsung pada pendapatan perusahaan. Saat ini kami sudah berada di posisi tiga besar perusahaan penyewaan kendaraan di Bali,” kata Boby.
Sementara itu, sektor perdagangan pangan juga terus diperkuat melalui diversifikasi produk. Jika sebelumnya hanya fokus pada beras dan bawang, kini Perumda Swatantra turut menyediakan minyak goreng, gula, garam, jagung, serta berbagai kebutuhan pokok lainnya.
Meski kinerja usaha menunjukkan tren positif, Boby mengakui tantangan yang dihadapi perusahaan semakin berat. Kenaikan harga BBM, meningkatnya biaya suku cadang kendaraan, bahan kemasan, hingga beban pajak menjadi faktor yang menekan biaya operasional.
Ia menyebut biaya pajak perusahaan yang sebelumnya sekitar Rp1,2 miliar kini meningkat menjadi sekitar Rp1,827 miliar atau naik hampir Rp700 juta. “Kenaikan biaya ini tentu menjadi tantangan bagi kami. Namun kami tetap berupaya menjaga kinerja usaha sekaligus memenuhi target kontribusi PAD kepada daerah,” katanya.
Sementara itu, Ketua Komisi III DPRD Buleleng, Ketut Susila Umbara, menilai Perumda Swatantra menunjukkan perkembangan yang positif dibandingkan sejumlah BUMD lainnya. Berdasarkan laporan yang disampaikan, perusahaan daerah tersebut berhasil membukukan keuntungan sekitar Rp2,2 miliar pada 2025.
Menurut Susila Umbara, capaian tersebut menjadi modal penting untuk meningkatkan kontribusi PAD bagi daerah. Ia juga mendorong pengembangan rencana bisnis baru yang mengintegrasikan sektor pertanian, perkebunan, dan peternakan.
“Potensinya sangat besar. Setelah kajian kelayakan selesai, kami berharap ada dukungan penyertaan modal sehingga usaha yang dirancang bisa berjalan dan memberikan kontribusi PAD yang lebih besar lagi bagi daerah,” ujarnya. (Yudha/balipost)










