Kepala Dinas Damkar dan Penyelamatan Kabupaten Buleleng, I Gede Arya Suardana (BP/yud)

SINGARAJA, BALIPOST.com – Tingginya potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Buleleng mendorong Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) mulai memetakan kebutuhan peralatan khusus untuk mendukung proses pemadaman. Langkah ini dilakukan mengingat kebakaran di kawasan perbukitan dan hutan kerap sulit dijangkau armada pemadam konvensional.

Kepala Dinas Damkar dan Penyelamatan Kabupaten  Buleleng, I Gede Arya Suardana, Senin (20/7), mengatakan, karakteristik kebakaran hutan dan lahan berbeda dengan kebakaran permukiman. Selain medan yang sulit dilalui kendaraan, sumber air di lokasi kebakaran juga sering kali tidak tersedia sehingga menyulitkan proses pemadaman.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi pertimbangan Damkar untuk memetakan jenis sarana dan prasarana yang paling sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Pengadaan peralatan nantinya juga akan disesuaikan dengan kemampuan anggaran daerah.

Baca juga:  Tambahan Harian Kasus COVID-19 Bali Makin Tinggi! Rekor Baru di Angka 350 Orang

“Idealnya memang ada peralatan khusus. Kebakaran hutan dan lahan tidak bisa dijangkau armada biasa. Selain medannya sulit, di lokasi juga sering tidak ada sumber air. Kalau ada sumber air masih bisa menggunakan pompa,” ujarnya.

Arya menjelaskan, selama ini sejumlah kebakaran di kawasan hutan memang dapat padam dengan sendirinya. Namun, kondisi akan menjadi perhatian serius apabila titik api mulai mendekati kawasan permukiman warga.

Baca juga:  Masuki Maret, BNPB Ingatkan Potensi Karhutla

Karena itu, Damkar berencana memperkuat sistem pemadaman berbasis pompa portabel yang mampu menyemprotkan air ke lokasi dengan elevasi lebih tinggi. Sistem tersebut memanfaatkan penampungan air portabel, sementara pasokan air disalurkan dari bawah menuju titik kebakaran.

Dengan sistem itu, jangkauan penyemprotan diperkirakan mampu mencapai 2 hingga 3 kilometer, sehingga diharapkan dapat mengatasi kendala akses menuju lokasi kebakaran di kawasan perbukitan.

Selain menyiapkan kebutuhan sarana, Damkar juga terus berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Buleleng untuk memetakan wilayah yang memiliki tingkat kerawanan karhutla tinggi. Pemetaan tersebut menjadi dasar dalam menentukan strategi mitigasi sekaligus kebutuhan peralatan yang diperlukan.

Baca juga:  PLN Pastikan SPKLU Siap Layani Pengguna EV saat Libur Nataru

Ke depan, Damkar juga mempertimbangkan pengadaan pompa portabel yang lebih mudah dipindahkan ke lokasi kebakaran. Nilai investasi satu unit pompa diperkirakan mencapai sekitar Rp200 juta. Beberapa jenis pompa sebenarnya telah tersedia menempel pada armada pemadam, namun penggunaannya di kawasan perbukitan masih terkendala karena sulit dibawa menuju titik api.

“Yang paling penting sebenarnya memastikan ketersediaan sumber air. Di beberapa wilayah seperti Bondalem, Bungkulan, dan Jagaraga relatif lebih mudah karena sumber air lebih dekat sehingga proses pemadaman dapat dilakukan lebih cepat,” katanya. (Yudha/balipost)

BAGIKAN