
DENPASAR, BALIPOST.com – Desa Adat Kesiman menggelar prosesi Ngerebong di Pura Agung Petilan, Minggu (5/7). Upacara yang dilaksanakan setiap Redite Pon Medangsia atau delapan hari setelah Hari Raya Kuningan ini sebagai upacara penyusian alam sekala-niskala.
Bendesa Adat Kesiman, Jro Ketut Wisna, Sabtu (4/7), mengatakan rangkaian karya tahun ini memiliki makna yang istimewa. Pada enam bulan lalu, Ngerebong dilakukan secara ngubeng mengingat adanya kegiatan restorasi, rehabilitasi hingga restrukturisasi bangunan di kawasan pura.
Menurut Jro Ketut Wisna, Ngerebong bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan mengandung makna keseimbangan antara dimensi sekala dan niskala. Pada masa lampau, prosesi ini juga menjadi ruang interaksi antara pemimpin dengan masyarakat.
Ia menjelaskan, ketika sistem kerajaan masih berlangsung, para raja dari berbagai wilayah di Bali datang ke Kesiman untuk mengikuti prosesi sekaligus berbaur dengan masyarakat. Momentum tersebut berkembang menjadi pesta rakyat yang diwarnai aktivitas perdagangan.
“Waktu itu sudah ada kegiatan ekonomi masyarakat. Sekarang mungkin disebut UMKM, tetapi sejak dahulu masyarakat sudah berdagang dan berbelanja di sini. Di Kesiman dikenal istilah menggalung di Kesiman,” katanya.
Tradisi tersebut memperlihatkan bahwa Ngerebong tidak hanya memiliki dimensi spiritual, tetapi juga menghidupkan aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat. Warga berbelanja berbagai kebutuhan dan kuliner yang kemudian dibawa pulang sebagai punjung.
Dari sisi spiritual, Jro Ketut Wisna menjelaskan prosesi Ngerebong merupakan simbol penyucian alam semesta atau penyuda mala. Rangkaian ritual diawali dengan berbagai prosesi sakral, termasuk ngider buana yang melambangkan harmonisasi alam, sebelum diakhiri dengan prosesi penyucian.
Dalam pelaksanaannya juga terdapat prosesi Tabuh Rah yang menjadi bagian dari ritual keagamaan. Menurutnya, prosesi tersebut bukan merupakan aktivitas perjudian melainkan ritual yang menggambarkan isi dunia yakni suka, duka, menang, kalah.
Setelah prosesi Tabuh Rah, keesokan harinya dilanjutkan dengan tajen suryak sesuai tradisi yang berlaku.
Lebih lanjut dijelaskan, kekhasan Ngerebong di Kesiman terletak pada kuatnya visualisasi ajaran Tantra. Berbeda dengan upacara yang lebih menonjolkan banyak sarana upakara, pada Ngerebong justru gerak dan simbol-simbol sakral menjadi media utama penyampaian makna spiritual.
“Upacaranya sederhana, menggunakan banten seperti guling panyujuk dan peras pengambean. Yang lebih ditonjolkan adalah visualisasi ajaran Tantra melalui gerak-gerak ritual,” ujarnya.
Dalam tradisi Hindu di Bali, Ngerebong dikenal sebagai salah satu ritual sakral yang erat kaitannya dengan pemujaan manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa di Pura Petilan Pengerebongan.
Prosesi ini juga identik dengan kerauhan para pengiring atau pengayah yang diyakini sebagai simbol turunnya kekuatan suci untuk menetralisasi berbagai unsur negatif serta memulihkan keharmonisan antara manusia, alam, dan Tuhan. (Widiastuti/balipost)










