Ribuan Krama Desa Adat Kesiman dan luar Kesiman dengan suka cita mengikuti tradisi ngarebong atau Pangerebongan, Minggu (5/7). (BP/sue)

DENPASAR, BALIPOST.com – Ribuan Krama Desa Adat Kesiman dan luar Kesiman dengan suka cita mengikuti tradisi ngarebong atau Pangerebongan, Minggu (5/7).

Tradisi ini enam bulan lalu dilakukan secara ngubeng atau terbatas karena restorasi Kori Agung Pura Petilan belum selesai, namun kini dilakukan secara normal usai tuntasnya restorasi dan pembangunan sejumlah gedong utama.

Prosesi ngarebong Minggu sore agak berbeda dari sebelumnya. Hal ini diakibatkan sejumlah pralingga sesuhunan tak menghadiri ritual ngarebong karena berbagai sebab.

Sejumlah sesuhunan dan pelawatan Ida bhatara yang tak ikut ngarebong, yakni barong dan ratu ayu dari Desa Adat Pemogan, barong dan ratu ayu dari Singgi, Sanur dan ratu ayu dan barong dari Kebonkuri Kesiman yang biasanya bertindak sebagai pemucuk pangerebongan.

Sedangkan sesuhunan yang ikut serta yakni barong dan ratu ayu dari Desa Adat Bekul, sesuhunan dari Tohpati dan Sawangan, Nusa Dua.

Bendesa Adat Kesiman,, Jro Mangku Wisna membenarkan hal itu lantaran untuk sesuhan Kebonkuri dan Singgi kali ini hanya nedunin Ida Bhatara Tirtha karena sesuhunan sedang dalam proses perbaikan atau ngodak prarai.

Sedangkan sesuhunan Pemogan kali ini giliran ngeneng dan akan ikut ngarebong enam bulan mendatang

Baca juga:  Bali Optimis Pungutan Wisman akan Berlaku Sesuai Jadwal

Diungkapkannya, sejak tahun 1937 prosesi ngarebong telah dilakukan di Desa Adat Kesiman ketika Kesiman sebagai sebuah kerajaan hingga kedistrikan. Wilayahnya meliputi Pemogan, Suci, Sanur hingga Nusa Dua. Makanya sesuhunan sekitar wilayah ini ikut serta dalam prosesi ngarebong.

Prosesi ini juga diisi dengan pertemuan raja dengan rakyatnya serta memberikan bantuan yang dikenal dengan istilah madana-dana. Kali ini tradisi dan masimakrama itu dipusatkan di Puri Ageng Pemayun Kedaton Kesiman.

Tradisi ngerebong bagi warga Desa Adat Kesiman, Denpasar melebihi kemeriahan Hari Raya Galungan. Kini pemaknaan prosesi ngarebong makin meluas.

Menurut Jro Mangku Wisna prosesi ngarebong dalam konteks kekinian tidak hanya sebatas ritual pembersihan dan harmonisasi alam Bali, juga untuk pelestarian seni dan budaya serta penguatan UMKM. Makanya selama pangerebongan ditampilkan aneka macam stand kuliner UMKM khas Kesiman dan sekitarnya sementara malam harinya digelar kreativitas seni yowana Kesiman. Mereka juga dilibatkan dalam lomba penjor, lomba ngelawar, serta lomba vlog.

Prosesi ngarebong berlangsung semarak karena diikuti sesuhunan 90 Pura di Kesiman. Saking uniksnya tradisi ini, sejak 2018 dinyatakan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya RI.

Baca juga:  Bantuan Peremajaan Kopi Untuk Tabanan Dibatalkan

Rangkaian ngarebong dimulai pagi hari yakni tibanya kober Pura Mregan dan pratima Puri Agung Kesiman. Kober putih, merah dan hijau ini memberi tanda bahwa rangkaian sudah dimulai, baru dilanjutkan kedatangan pratima Puri Agung Kesiman dilanjutkan Pratima manca dan pangerob Pura lainnya. Prosesi ini disebut medalang dewa.

Bersaman dengan prosesi medalan dewa dan ngarebong juga digelar tabuh rah aci.

Budayawan yang juga Wakil Bendesa Adat Kesiman, Guru Gede Anom Ranuara menjelaskan tradisi ini diawali dengan upacara Nyanjan dan Nuwur Ida Bhatara. Tujuan upacara ini untuk memohon kekuatan suci Bhatara-Bhatari agar turun melalui paradasar-nya. Para pengusung rangda dan barong dan pepatihnya langsung dalam keadaan trance (karauhan).

Saat itu dilakukan penyatuan Ang atau Akasa dan Ung atau Pertiwi dari berupa pelawatan menjadi spiritual. Makanya Guru Anom Ranuara menegaskan ngarebong adalah bentuk Dewa Yadnya, bukan aliran animisme

Selanjutnya semua pelawatan barong dan rangda serta para pepatih yang trance itu keluar dari Kori Agung, terus mengelilingi wantilan dengan cara prasawia bergerak dari timur ke utara, ke barat, ke selatan dan kembali ke timur sebanyak tiga putaran. Ini yang dikatakan Guru Anom Ranuara ngerehang yakni menari dan napak pertiwi.

Baca juga:  Gempa Berulangkali, Tembok Taman Kota Chandra Bhuana Ambrol

Menurutnya, kata ngerebong berasal dari tiga peristiwa yakni ngerehang (nedunin Ida Bhatara) sambil mengelilingi wantilan. Kedua dari kata rerebong yakni menari (napak pertiwi) dan ngarebuin yakni menghamorniskan alam akasa dan pertiwi.

Puncaknya, para pepatih ngurek atau menusukkan keris ke dada sebagai cihna bhakti dan setia kepada Ida Bhatara sesuhunan.

Setelah upacara ngerehang dilanjutkan upacara Maider Bhuwana atau ngarebuin. Prosesi ini diikuti pemangku petapakan Manca dan Prasanak Pangerob Pura Desa, Puseh Dalem Kesiman dengan maider bhuwana. Saat itu dipundut kain Poleng Kesiman Sudamala mengelilingi wantilan sebagai simbol terjaganya keharmonisan.

Menurut Guru Gede Anom prosesi Maider Bhuwana ini dilakukan tiga kali sebagai simbol pendakian hidup dari Bhur Loka menuju Bhuwah Loka dan yang tertinggi menuju Swah Loka, yaitu alam kedewataan. Terakhir, baru dilakukan pangeluwuran dan ditutup dengan pangilen pangerebongan sebagai simbol terjadinya keharmonisan Akasa lan Pertiwi. (Sueca/balipost)

BAGIKAN