Dekan Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) Institut Teknologi Bandung (ITB), Dr. Techn. Dudy D. Wijaya saat kegiatan Pra-Studi Kelayakan Proyek Percontohan Energi Laut Terbarukan di Nusa Penida di Renon, Selasa (30/6). (BP/dik)

DENPASAR, BALIPOST.com – Pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Arus Laut (PLTAL) di Nusa Penida tidak hanya ditujukan untuk mendukung transisi energi nasional, tetapi juga harus mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Dekan Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) Institut Teknologi Bandung (ITB), Dr. Techn. Dudy D. Wijaya saat kegiatan Pra-Studi Kelayakan Proyek Percontohan Energi Laut Terbarukan di Nusa Penida di Renon, Selasa (30/6) mengatakan, pemerintah tengah mendorong percepatan transisi menuju energi baru terbarukan (EBT).

Dalam proyeksi bauran energi nasional, sekitar 61 persen pasokan energi akan berasal dari EBT, sekitar 20 persen dari sistem penyimpanan energi (energy storage), sedangkan sisanya masih dipenuhi dari sumber energi yang telah dikelola saat ini seperti minyak, gas bumi, dan energi fosil.

Menurutnya, transisi energi bukan hanya persoalan mengganti sumber energi fosil menjadi energi terbarukan, tetapi juga bagaimana membangun kemandirian energi sekaligus meningkatkan kondisi ekonomi masyarakat.

“Transisi energi bukan semata-mata beralih energi, tetapi bagaimana kita menguasai energi. Yang lebih penting lagi adalah bagaimana masyarakat di sekitar lokasi pembangunan ikut diberdayakan dan memperoleh manfaat ekonomi,” ujarnya.

Baca juga:  Stop Perpindahan Siswa

Ia menegaskan pemerintah pusat memberikan perhatian besar terhadap pemberdayaan masyarakat di setiap wilayah yang memiliki potensi energi baru terbarukan.

Dudy menjelaskan, gagasan pemanfaatan energi arus laut di Indonesia sebenarnya telah berkembang sejak 1986. Namun hingga kini, potensi tersebut masih berupa potensi energi yang belum dimanfaatkan menjadi energi listrik.

“Potensi yang ditemukan Prof. Dwi Susanto ini masih berupa energi potensial. Agar menjadi energi kinetik yang mampu menggerakkan turbin dan menghasilkan listrik, tentu diperlukan berbagai tahapan penelitian, teknologi, dan investasi,” katanya.

Karena itu, menurutnya, seluruh pihak perlu bekerja sama agar potensi energi arus laut yang dimiliki Indonesia benar-benar dapat dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat.

“Teknologinya sebenarnya sudah tersedia. Tantangannya sekarang adalah bagaimana mengubah potensi itu menjadi energi yang benar-benar bisa dimanfaatkan masyarakat,” ujarnya.

Ia menambahkan, pengembangan PLTAL juga harus memperhatikan aspek sosial sehingga masyarakat, pelaku UMKM, tokoh adat, hingga pelaku pariwisata ikut dilibatkan dalam proses perencanaan.

Baca juga:  Jelang New Normal, Sejumlah Pantai di Sanur Belum Dibuka Penuh

“Kami tidak ingin sekadar memindahkan sumber energi dari daratan ke laut. Yang kami inginkan adalah seluruh masyarakat ikut maju bersama. UMKM kuat, ekonomi masyarakat meningkat, kehidupan sosial tetap terjaga, tanpa harus tergerus oleh hadirnya teknologi energi baru ini,” katanya.

Sementara itu, Dekan Fakultas Teknik Universitas Udayana, Prof. Linawati mengatakan pengembangan energi terbarukan di Bali merupakan cita-cita yang telah lama didorong.

Menurutnya, Bali telah memulai pengembangan energi bersih melalui pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap, termasuk di kawasan Nusa Penida. Universitas Udayana juga telah beberapa kali diminta pemerintah daerah melakukan kajian mengenai pemanfaatan sumber energi terbarukan.

Ia menilai pemanfaatan energi arus laut bukanlah teknologi baru, namun selama ini belum berkembang luas karena biaya investasi yang tinggi dan tingkat risiko yang besar. Mudah-mudahan dengan perkembangan teknologi sekarang, biayanya bisa semakin rendah dan risikonya juga semakin kecil.

Baca juga:  Wantilan Pura Ped Ludes Terbakar

Linawati mengingatkan bahwa setiap inovasi selalu memiliki dua sisi, yakni manfaat dan potensi dampak negatif. Oleh karena itu, seluruh dampak lingkungan maupun sosial harus dikaji secara menyeluruh sebelum proyek direalisasikan.

Ia mencontohkan, saat mengikuti simposium bersama sejumlah universitas dari luar negeri, salah satu isu yang banyak dibahas adalah resource recovery, yaitu bagaimana setiap teknologi yang dikembangkan juga memiliki mekanisme pemulihan terhadap dampak yang mungkin ditimbulkan. Jangan hanya melihat manfaatnya, tetapi juga harus mengkaji dampak negatifnya sehingga bisa diminimalkan melalui teknologi yang lebih baik.

Menurutnya, tahap pra-studi kelayakan menjadi momentum penting untuk melakukan berbagai survei lapangan dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan, termasuk masyarakat lokal.

Mudah-mudahan nanti bisa melakukan survei secara komprehensif dengan melibatkan masyarakat sehingga Nusa Penida benar-benar dapat menjadi wilayah yang mandiri energi sekaligus menjadi contoh pengembangan energi terbarukan di Indonesia. (Suardika/balipost)

BAGIKAN