Swiss bakal melawan Bosnia di Los Angeles Stadium, Amerika Serikat, Jumat (19/6) pukul 02.00 WIB. (BP/Antara)

JAKARTA, BALIPOST.com – Swiss masuk arena dengan bekal sebagai juara Grup B kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Eropa dan berperingkat paling atas sehingga difavoritkan menjuarai grupnya dalam putaran final Piala Dunia 2026 yang kebetulan Grup B pula.

Namun perjalanan mereka setelah seri 1-1 melawan Qatar bukannya makin mudah, melainkan kian sulit karena kembali harus menghadapi ujian kedua dengan tim yang menerapkan pertahanan garis rendah yang mungkin lebih solid dari Qatar.

Dikutip dari Kantor Berita Antara, pada laga kedua Grup B, Swiss bakal melawan Bosnia di Los Angeles Stadium, Amerika Serikat, Jumat (19/6) pukul 02.00 WIB.

Sampai mereka memaksa tuan rumah Kanada seri 1-1, Bosnia Herzegovina yang dilatih Sergej Barbarez tak pernah kalah dalam sembilan pertandingan terakhirnya sejak dikalahkan 1-2 oleh Austria dalam kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Eropa pada 10 September 2025.

Bosnia juga hanya kebobolan satu gol dalam setiap pertandingan dari sembilan laga itu, kecuali saat melawan Makedonia Utara dalam laga persahabatan yang berakhir 0-0.

Austria dalam pertandingan kedua kualifikasi zona Eropa, Italia yang juara dunia empat kali, dan Wales yang tak kalah kuat dari kedua tim Eropa itu, kesulitan membobol gawang Bosnia.

Baca juga:  Piala Dunia 2026: Inggris Kalahkan Kroasia, Harry Kane Sumbang 2 Gol

Wales dan Italia kemudian kalah adu penalti dalam playoff Eropa sehingga dipaksa untuk rela melihat Bosnia yang melenggang ke putaran final Piala Dunia 2026.

Pekan lalu, Kanada yang menjadi salah satu tuan rumah Piala Dunia 2026, juga kesulitan menembus benteng pertahanan Bosnia dan kiper mereka, Nikola Vasilj.

Tapi Kanada masih kalah agresif dibandingkan Swiss dalam menekan lawan. Kanada juga hampir seimbang dengan Bosnia dalam menciptakan peluang.

Jika Bosnia membuat 3 peluang emas dari total 8 peluang, maka Kanada mengkreasi 4 peluang tepat sasaran dari total 13 peluang.

Angka-angka itu jauh di bawah statistik yang dibuat Swiss, yang melepaskan 26 peluang yang 7 di antaranya tepat sasaran.

Ironisnya, dengan peluang sebanyak itu, Swiss hanya bisa mencetak satu gol dari penalti.

Apakah ini menunjukkan para penyerang Swiss tidak tajam, atau karena pertahanan Qatar yang sangat kuat, atau karena keberuntungan saja?

Baca juga:  Milan Dikalahkan Parma, Tak Beranjak dari Posisi Kedua Klasemesn Serie A

Jika yang pertama dan yang kedua masalahnya, maka Swiss akan lebih sulit lagi karena akan menghadapi tim yang memiliki organisasi pertahanan lebih kuat dari Qatar walau peringkat Bosnia ada di bawah Qatar.

Tapi jika karena faktor kebetulan, maka Swiss harus membenahi mental pemain-pemainnya, atau bisa juga dengan memasang komposisi skuad yang tepat.

Empat hari setelah diimbangi Qatar, pelatih Murat Yakin baru mengaku telah salah dalam memasang pemain-pemain yang kurang tepat saat melawan Qatar.

Dia mengaku salah telah menurunkan pemain-pemain yang masih membutuhkan pengalaman bermain.

Oleh karena itu, dalam laga melawan Bosnia ini, Yakin cenderung memasang pemain-pemain berpengalaman selama mungkin, sampai ada jaminan timnya menang.

Stabilitas skuad memang penting mengingat lawan yang dihadapi Granit Xhaxa dkk kali ini lebih mengerikan ketimbang Qatar, khususnya dalam mengamankan wilayahnya.

Untuk itu, Murat Yakin tak akan coba-coba lagi mengganti Ricardo Rodriguez dengan bek tengah Miro Muheim yang kurang berpengalaman dan membuat kesalahan fatal yang berujung gol bunuh diri sehingga kemenangan di depan mata berkat gol Breel Embolo pun hilang.

Baca juga:  Peserta Piala Dunia U-17 Dapat Gunakan Visa Olahraga

Murat Yakin juga tak akan lagi cepat-cepat mengganti gelandang senior Remo Freuler dengan Ardon Jashari yang masih berusia 23 tahun.

Dia tak akan terburu-buru menarik mitra Embolo di lini depan, Dan Ndoye, dengan memasukkan Johan Manzambi yang masih berumur 20 tahun. Dia juga tak akan gampang mengganti Ruben Vargas yang sarat pengalaman.

Tapi Murat Yakin kemungkinan mempertahankan formasi tiga bek tengah dan tiga pemain depan, dalam sistem bermain ofensif 3-4-3.

Walau lawan mereka, Bosnia, menerapkan pola berbeda dari Qatar, Swiss percaya sistem ini ampuh dalam menaklukkan tim yang menekankan ketahanan fisik dan pola bertahan agresif seperti Bosnia.

Seperti Qatar, Bosnia juga menerapkan pressing tinggi dan agresif saat lawan masuk daerah pertahanan mereka.

Ketika melawan Kanada, Bosnia membuat 203 kali pressing di daerah pertahanannya guna merusak serangan lawan. Itu sekitar tiga perempat lebih banyak dari yang dilakukan Kanada. (Suka Adnyana/balipost)

 

BAGIKAN