Pemain Timnas Norwegia, Erling Haaland. (BP/Antara)

JAKARTA, BALIPOST.com – Perempat final Piala Dunia 2026 menghadirkan pertarungan sarat gengsi antara Inggris dan Norwegia di Miami Stadium, Amerika Serikat, Minggu (12/7) pukul 04.00 WIB. Namun, duel dua tim Eropa ini sejatinya mengerucut pada satu pertanyaan besar: mampukah Inggris menghentikan Erling Haaland?

Jawaban atas pertanyaan itu diyakini akan sangat menentukan nasib kedua tim memperebutkan tiket Semifinal Piala Dunia 2026. Sebab, selama penyerang Manchester City tersebut mampu dibungkam, peluang Inggris melangkah ke semifinal terbuka lebar. Sebaliknya, jika Haaland dibiarkan lepas dari pengawalan, The Three Lions bisa menjadi korban berikutnya.

Dilansir dari Kantor Berita Antara, pelatih Inggris, Thomas Tuchel, menyadari ancaman besar yang dibawa striker berusia 25 tahun itu. Meski Norwegia juga diperkuat pemain berkualitas seperti Martin Odegaard, Sander Berge, Alexander Sorloth hingga kiper Orjan Nyland, seluruh permainan tim asuhan Stale Solbakken nyaris selalu bermuara kepada Haaland.

Baca juga:  Persoalan PON Aceh-Sumut Menjadi Catatan Penting Pemerintah

Statistik menjadi bukti betapa vitalnya peran sang bomber. Dari total 12 gol Norwegia sepanjang Piala Dunia 2026, tujuh gol atau sekitar 58 persen dicetak Haaland. Bahkan, sepertiga peluang berbahaya Norwegia lahir dari kontribusinya.
Lebih mengesankan lagi, Haaland tampil luar biasa efisien.

Sebanyak 17 dari 18 peluang yang ia ciptakan berawal hanya dari satu sentuhan bola, memperlihatkan naluri mencetak gol yang sulit ditandingi striker mana pun saat ini.

Keunggulan Haaland bukan hanya terletak pada postur tubuhnya yang menjulang setinggi 1,95 meter, tetapi juga kecerdasan membaca ruang, kecepatan mengambil keputusan, dan kemampuan muncul di posisi yang tak terduga. Ia tidak membutuhkan banyak sentuhan untuk mengubah peluang sekecil apa pun menjadi gol.

Karena itulah, menghentikan Haaland tidak cukup hanya mengandalkan duel fisik. Inggris dituntut memutus suplai bola sekaligus membatasi ruang geraknya selama 90 menit.

Tuchel diperkirakan mempertimbangkan penggunaan formasi tiga bek tengah, skema yang pernah menjadi andalannya saat membawa Chelsea meraih berbagai prestasi. Pola 3-4-2-1 dinilai mampu memberi penjagaan berlapis kepada Haaland tanpa mengurangi keseimbangan lini belakang.

Baca juga:  Petinju Bali Imbangi Atlet Pelatnas

Strategi tersebut bukan tanpa alasan. Sepanjang tahun ini, hanya Maroko dan Swiss yang berhasil meredam ketajaman Haaland dalam laga persahabatan sebelum Piala Dunia.

Maroko memilih mengerahkan penjagaan ketat terhadap Haaland dan Alexander Sorloth meski harus membiarkan kedua sayap Norwegia lebih leluasa. Sementara Swiss sukses membatasi ruang gerak Haaland melalui skema tiga bek tengah yang dikomandoi Manuel Akanji dan Nico Elvedi.

Pendekatan serupa bisa menjadi referensi bagi Inggris. Sebab, sejumlah tim kuat seperti Brasil, Senegal hingga Pantai Gading gagal menghentikan bomber Norwegia tersebut meski telah menurunkan dua bek tengah sekaligus.

Secara historis, Inggris memang lebih unggul dengan meraih tujuh kemenangan dari 12 pertemuan melawan Norwegia. Namun, catatan masa lalu dinilai tidak lagi relevan. Sejak Haaland menjalani debut bersama tim nasional pada 2019, wajah Norwegia berubah menjadi tim yang jauh lebih berbahaya.

Baca juga:  Kembali, Tiongkok Laporkan Puluhan Kasus Baru COVID-19

Pengaruh Haaland bagi Norwegia bahkan disebut sebanding dengan peran Lionel Messi bagi Argentina atau Diego Maradona pada masanya. Ketika sang striker mampu dikunci dan aliran bola kepadanya terputus, kekuatan Norwegia menurun drastis. Sebaliknya, ketika Haaland menemukan ruang sekecil apa pun, ia mampu mengubah jalannya pertandingan dalam hitungan detik.

Karena itu, duel Inggris kontra Norwegia diprediksi bukan sekadar adu strategi antara Thomas Tuchel dan Stale Solbakken. Pertandingan ini akan menjadi ujian apakah Inggris mampu mematikan mesin gol paling berbahaya di dunia.

Jika Haaland berhasil dibuat tak berkutik, tiket semifinal hampir pasti berada di genggaman The Three Lions. Namun jika sebaliknya, mimpi Inggris mengangkat trofi Piala Dunia 2026 bisa berakhir di Miami. (Suka Adnyana/balipost)

BAGIKAN