
DENPASAR, BALIPOST.com – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Bali masih menunjukkan tren tinggi sepanjang awal tahun 2026. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Bali hingga 15 Mei 2026, jumlah penderita DBD tercatat mencapai 1.167 kasus dengan dua kematian.
Kabupaten Gianyar menjadi wilayah dengan jumlah kasus tertinggi yakni mencapai 285 penderita. Posisi berikutnya ditempati Badung dengan 232 kasus, Karangasem 148 kasus, Buleleng 131 kasus, Denpasar 119 kasus, dan Klungkung sebanyak 117 kasus.
Sementara itu, Bangli mencatat 69 kasus, Tabanan 57 kasus, dan Jembrana menjadi daerah dengan jumlah kasus paling rendah yakni 9 orang.
Lonjakan kasus DBD terjadi sejak awal tahun. Pada Januari 2026 tercatat 281 kasus, Februari 277 kasus, Maret sebanyak 246 kasus, dan April kembali meningkat menjadi 264 kasus. Hingga pertengahan Mei, tambahan kasus baru sudah mencapai 99 orang.
Untuk angka kematian, dua kasus dilaporkan masing-masing terjadi di Kabupaten Buleleng dan Kota Denpasar.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Provinsi Bali, I Gusti Ayu Raka Susanti, mengatakan berbagai langkah pengendalian terus dilakukan guna menekan penyebaran DBD di seluruh kabupaten/kota di Bali.
Menurutnya, Dinkes Bali telah mengeluarkan Surat Kewaspadaan Dini Peningkatan Kasus DBD kepada seluruh Dinas Kesehatan kabupaten/kota se-Bali.
Selain itu, penguatan sistem surveilans dengue juga terus dilakukan untuk mendeteksi peningkatan kasus lebih cepat serta mencegah terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB).
“Kami juga terus melakukan edukasi kepada masyarakat terkait pengendalian dengue melalui gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M-Plus secara berkesinambungan,” ujarnya, Selasa (26/5).
Ia menjelaskan, upaya penanggulangan fokus juga dilakukan berdasarkan hasil penyelidikan epidemiologi di lapangan. Jika ditemukan indikasi sirkulasi penularan DBD yang tinggi di suatu wilayah, maka dilakukan fogging sebagai langkah pengendalian.
Tak hanya itu, Dinkes Bali juga menggandeng Stasiun Klimatologi (Staklim) BMKG dalam membangun sistem kewaspadaan dini berbasis iklim untuk memprediksi potensi peningkatan kasus DBD di masa mendatang melalui pemodelan data penyakit dan data cuaca.
Di sisi lain, kolaborasi dengan program Corporate Social Responsibility (CSR) juga diperkuat melalui program pencegahan DBD bertajuk “Bebas Nyamuk, Keluarga Sehat & Bebas Gerak” yang saat ini berjalan di Kabupaten Gianyar, Badung, dan Kota Denpasar.
Dinkes Bali mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap penyebaran DBD, terutama memasuki periode cuaca yang mendukung perkembangan nyamuk Aedes aegypti. Masyarakat diminta rutin melakukan PSN 3M-Plus, menjaga kebersihan lingkungan, serta segera memeriksakan diri apabila mengalami gejala demam tinggi. (Ketut Winata/balipost)










