
NEGARA, BALIPOST.com – Kawasan sekitar Museum Purbakala di pesisir Teluk Gilimanuk masih menyimpan sejumlah benda purbakala sehingga dilindungi. Museum ini menyimpan sejumlah koleksi benda hasil ekskavasi yang dilakukan selama beberapa tahun lalu. Termasuk fosil manusia purba, sarkofagus, perhiasan dari batu, periuk, perunggu dan lainnya. Peradaban di Gilimanuk merupakan pemukiman manusia purba dari ras Mongoloid antara 195 SM hingga 425 M.
Masih adanya sejumlah benda purbakala di dalam tanah sekitar Museum terbukti saat dilakukan praktek ekskavasi puluhan mahasiswa Unud sejak Senin (18/5) lalu.
Kendati dalam program praktek teknik ekskavasi, beberapa benda peninggalan peradaban purba ditemukan. Seperti serpihan manik-manik yang diperkirakan bagian dari kehidupan purba.
Kepala Bidang Adat, Tradisi dan Warisan Budaya Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jembrana, I Gede Suartana, Jumat (22/5) mengatakan upaya ekskavasi yang dilakukan selama 5 hari di areal Museum Purbakala Gilimanuk ini dilakukan mahasiswa program studi Arkeologi Universitas Udayana.
“Ini menjadikan fungsi Museum untuk kepentingan studi praktik ekskavasi, sekaligus juga mengenalkan bahwa di Gilimanuk ini terdapat situs manusia purba yang beberapa koleksi benda dipamerkan di museum,” kata Suartana.
Sejauh ini, ekskavasi yang dilakukan belum menemukan fosil, namun sejumlah benda yang digunakan seperti serpihan manik-manik ditemukan. Hal ini membuktikan bahwa areal sekitar Museum merupakan situs purbakala dan dilindungi.
Pemerintah Daerah yang mengelola Museum Purbakala di Gilimanuk ini menurutnya mengupayakan agar lokasi tersebut dapat berfungsi baik untuk pariwisata, pendidikan dan upaya menjaga warisan budaya. Peradaban manusia di Gilimanuk ini saat masa perundagian, pergeseran zaman prasejarah menuju zaman sejarah. Koleksi yang ada di museum, terdiri dari berbagai macam. Di lantai satu terdapat kerangka manusia purba, sarkofagus (kuburan), dan peralatan dari tulang hewan, yang diberi nama sudip (alat untuk mengeluarkan isi kerang).
Sementara untuk lantai dua, terdapat koleksi kerajinan gerabah zaman purba, berupa periuk, mangkok, dan kompor jaman dulu yang disebut anglo. Selain itu, ada pula beberapa koleksi peralatan batu yang digunakan sebagai senjata dan peralatan dari perunggu berupa perhiasan dan senjata. Dan untuk di lantai tiga, terdapat koleksi pernak-pernik gelang sejenis mute yang tersebut dari bahan batu. Seluruh fosil manusia purba selalu ditanam dengan posisi layaknya bayi dalam kandungan dengan mengarah ke gunung Prapat Agung di seberang Teluk Gilimanuk. Hal ini dikarenakan manusia zaman dulu mempercayai jika orang yang mati akan dilahirkan kembali atau reinkarnasi. Selain itu saat meninggal, manusia purba juga menggenapi bekal-bekal berupa barang-barang yang ditaruh di sekitar lokasi penguburan atau bekal kubur.
Suartana menambahkan untuk memberdayakan Museum yang dibangun sekitar tahun 1994 itu, juga akan digelar kegiatan rutin yang melibatkan siswa atau generasi muda. Seperti Kemah Budaya yang rencananya akan digelar pada awal Juni mendatang. (Surya Dharma/balipost)










