Kondisi sampah yang berjejer di jalan Gajah Mada Tabanan, Kamis (21/5) siang. (BP/bit)

SINGASANA, BALIPOST.com – Persoalan pengelolaan sampah di sejumlah puskesmas di Kabupaten Tabanan masih menjadi pekerjaan rumah. Hal itu terungkap dalam Forum Konsultasi Publik yang digelar Dinas Kesehatan Kabupaten Tabanan, Kamis (21/5).

Sejumlah persoalan mulai dari pemilahan sampah yang belum optimal hingga keterlambatan pengangkutan limbah rupanya masih ditemukan di lapangan.

Kepala Puskesmas Baturiti II, Ni Luh Putu Listya Riana Sari, mewakili puskemas di kabupaten Tabanan mengungkapkan pemilahan sampah terutama di ruang tunggu pasien masih belum berjalan maksimal di sejumlah puskesmas.

Selain itu, sejumlah puskesmas juga mengalami penumpukan sementara limbah sebelum diangkut. Menurut dia, kondisi tersebut dipicu lamanya proses pengangkutan sampah bahkan terkadang tidak sesuai jadwal. “Pengangkutan yang tidak sesuai jadwal masih mengakibatkan penumpukan sampah di TPS,” ujarnya dalam forum tersebut.

Baca juga:  DLHK Datangi Tujuh RPA Buang Limbah ke Sungai

Tidak hanya itu, beberapa puskesmas juga belum memiliki rekanan pengangkutan sampah residu, seperti di Kerambitan I dan Selemadeg. Situasi tersebut dinilai dapat meningkatkan risiko penularan penyakit dan cedera petugas, pencemaran lingkungan, hingga memunculkan bau tidak sedap.

Dalam forum itu juga dipaparkan jenis sampah yang dihasilkan puskesmas, mulai sampah organik, anorganik, hingga limbah medis B3 baik padat maupun cair. Limbah medis seperti masker, sarung tangan, perban bekas, hingga jarum suntik memerlukan penanganan khusus karena berisiko membahayakan petugas maupun masyarakat.

Baca juga:  5 Penyebab Badan Lemas Saat Bangun Tidur

Akibat persoalan tersebut, biaya operasional pengelolaan limbah ikut meningkat dan berdampak pada kualitas pelayanan fasilitas kesehatan. Bahkan petugas cleaning service harus memilah kembali sampah yang tercampur sebelum dibuang.

Sebagai langkah penanganan, lanjut kata dr. listya, Puskesmas Baturiti II telah bekerja sama dengan Desa Perean Tengah untuk penanganan sampah anorganik dan residu sebelum diangkut Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK). Namun, persoalan keterlambatan pengangkutan masih menjadi kendala yang belum sepenuhnya teratasi.

Baca juga:  Tersambar Petir, Penangkal Petir Bengkok hingga Ambulans Terbakar

Terkait kondisi tersebut, Kepala bidang Persampahan, DLH Tabanan, I Wayan Putra mengatakan pihaknya terus berupaya melakukan optimalisasi pengangkutan sampah, termasuk dari fasilitas layanan kesehatan. Namun keterbatasan armada dan penyesuaian jadwal pengangkutan memang masih menjadi tantangan di lapangan.

DLH juga mendorong seluruh fasilitas kesehatan agar memperkuat pemilahan sampah sejak dari sumber untuk mengurangi penumpukan residu dan mempermudah proses pengangkutan maupun pengolahan akhir sampah. (Puspawati/balipost)

BAGIKAN