
DENPASAR, BALIPOST.com – Bank Indonesia memperkirakan perekonomian Bali akan meningkat atau angkanya tumbuh positif pada triwulan II 2026 seiring meningkatnya kinerja pariwisata yang memasuki pola high season dan panen raya.
Pariwisata Bali bersumber dari wisatawan mancanegara (utamanya India) dan wisatawan nusantara (liburan sekolah). Sementara itu, kinerja pertanian diprediksi juga mengalami peningkatan seiring panen raya padi dan hortikultura.
Penopang perekonomian lainnya, meningkatnya konstruksi proyek terutama terkait pariwisata dan proyek strategis pemerintah serta meningkatnya konsumsi rumah tangga seiring dengan hari besar keagamaan nasional (HKBN), yakni Galungan-Kuningan.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Achris Sarwani di Denpasar mengatakan, melalui penguatan sinergi antara pemerintah, pelaku ekonomi, dan stakeholders terkait, Bank Indonesia berkomitmen mendukung berbagai inovasi serta kebijakan strategis daerah. Kolaborasi ini diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi Bali yang inklusif, berkelanjutan, dan memiliki daya saing tinggi di tingkat nasional maupun global.
Diakui ekonomi Bali triwulan I 2026 mampu tumbuh kuat di tengah gejolak geopolitik global. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali, perekonomian Bali pada triwulan I 2026 tumbuh kuat sebesar 5,58% (yoy). Di tengah gejolak geopolitik global, ekonomi Bali mampu tumbuh positif yang menunjukkan ekonomi Bali tetap kuat dan berdaya tahan meskipun kondisi eksternal dipenuhi dengan ketidakpastian.
“Perekonomian Provinsi Bali pada triwulan I 2026 masih tinggi meskipun melambat dari triwulan sebelumnya (5,86% yoy), sejalan dengan pola seasonalnya,” katanya Rabu (6/5).
Capaian pertumbuhan ekonomi tersebut didorong pertumbuhan hampir seluruh lapangan usaha (LU). Merujuk data BPS, LU dengan pertumbuhan tertinggi masih berada pada LU Administrasi Pemerintah yang tumbuh 16,67% (yoy), diikuti LU Industri Pengolahan (8,93% yoy). Lebih lanjut, LU Pertanian tumbuh menguat sebesar 2,36% (yoy) yang didorong peningkatan kinerja subsektor perkebunan dan peternakan. LU konstruksi juga tumbuh menguat sebesar 4,87% (yoy) didukung tingginya realisasi proyek strategis serta investasi PMA dan PMDN.
Sementara itu, LU akmamin masih tumbuh kuat sebesar 6,44% (yoy), meskipun melambat seiring periode low season dan penutupan beberapa penerbangan karena konflik Timur Tengah.
Dari sisi pengeluaran, ekonomi Bali yang tumbuh kuat utamanya didukung pertumbuhan konsumsi pemerintah yang meningkat sebesar 20,28% (yoy) yang bersumber dari realisasi belanja pemerintah pusat dan daerah. Komponen dengan pertumbuhan terbesar berikutnya adaah Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang tumbuh 6,78% (yoy).
Sementara itu, konsumsi rumah tangga tumbuh 5,02% (yoy) sejalan dengan aktivitas belanja masyarakat pada momen HBKN Nyepi, Ramadan, dan IdulFitri, disertai program potongan harga belanja dan insentif pemerintah.
Di sisi lain, ekspor luar negeri tumbuh 2,84% (yoy) melambat dibandingkan triwulan sebelumnya sejalan dengan melambatnya ekspor jasa (kunjungan wisatawan). (Suardika/balipost)










