Petugas kesehatan memberikan vaksin booster pada lansia di RSUD Wangaya, Denpasar, Jumat (14/1/2022). (BP/Dokumen)

DENPASAR, BALIPOST.com – Survei Penduduk Antarsensus (Supas) 2025 menunjukkan proporsi penduduk usia tua di Bali mengalami peningkatan dari 8,42 persen menjadi 9,89 persen. Demikian disampaikan Kepala BPS Bali Agus Gede Hendrayana Hermawan di Denpasar, Bali, Rabu (6/5).

Menurut dia, pada penduduk lansia terjadi peningkatan persentase dari 12,88 persen hasil Sensus Penduduk (SP) 2020 menjadi 15,07 persen saat Supas 2025. Fase penuaan penduduk karena melebihi 10 persen ini ternyata terjadi merata di seluruh kabupaten/kota di Bali, sehingga intervensi dapat dilakukan di seluruh daerah.

Sementara untuk kabupaten yang persentase lansianya tertinggi adalah di Tabanan.

Baca juga:  Buntut Plat Nopol Palsu, Polresta Tindak Puluhan WNA

“Tabanan itu persentase penduduk tuanya terbesar 20,11 persen, kemudian Klungkung 16,68 persen, Gianyar 16,17 persen, Bangli 15,86 persen, dan Jembrana 15,46 persen, dan angka yang masih di bawah rata-rata provinsi itu, Karangasem 14,42 persen, Buleleng 14,20 persen, Badung 13,91 persen, dan Denpasar 12,57 persen,” kata Agus dikutip dari Kantor Berita Antara.

Peningkatan penduduk lansia juga sejalan dengan turunnya total fertility rate (TFR) atau angka kelahiran total pada perempuan Bali pada Supas 2025. Ia meminta Pemerintah Daerah Bali menyiapkan fasilitas pendukung sebab penduduknya sudah memasuki fase penuaan.

Baca juga:  76 Tahun SPS, Pers Mencerdaskan dan Mengedukasi Generasi Bangsa

“Penduduk Bali sudah memasuki penduduk usia tua dan tentu perlu diperhatikan oleh pemerintah terkait dengan fasilitas-fasilitas yang diperlukan,” katanya.

Sementara, penduduk usia muda dan usia produktif menurun dalam lima tahun terakhir.

“Kalau ageing population mau diartikan positif artinya derajat kesehatannya semakin bagus, karena orang semakin bisa bertahan hidup, cuma yang perlu diantisipasi apakah kita sudah menyediakan berbagai macam fasilitas bagi mereka kan fasilitasnya pasti berbeda,” ujar Agus Gede.

 

Dari sensus pada 2020, tren kelahiran per perempuan usia 15-49 tahun di Bali 2,04 sementara 2025 sebesar 2,02, dengan kelahiran terendah di Tabanan dan tertinggi di Karangasem.

Baca juga:  Soal Premanisme, Koster: Jangan Terlalu Toleran dan Kompromistis

BPS Bali melihat jika seperti ini maka wajar Pemprov Bali mendorong angka kelahiran penduduk melalui pemberian insentif bagi anak ketiga dan keempat.

Apalagi Supas 2025 memotret bahwa laju pertumbuhan penduduk Bali melambat dalam lima tahun terakhir.

Jika tahun 2010-2020 pertumbuhan penduduk 1,01 persen per tahun, BPS Bali mendata sejak 2020-2025 pertumbuhan penduduk Bali 0,69 persen dan berpotensi semakin turun hingga 2035. (kmb/balipost)

BAGIKAN