Kepala BPS Bali Agus Gede Hendrayana Hermawan. (BP/kmb)

DENPASAR, BALIPOST.com – Perekonomian Bali pada triwulan I 2026 secara tahunan (year on year/yoy), tumbuh sebesar 5,58 persen. Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi terjadi pada lapangan usaha administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial wajib yang tumbuh sebesar 16,67 persen.

Sementara dari sisi pengeluaran, komponen pengeluaran konsumsi pemerintah tumbuh sebesar 20,28 persen.

Sementara itu, produk domestik regional bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku (ADHB) tercatat sebesar Rp82,21 triliun, sementara atas dasar harga konstan sebesar Rp44,28 triliun.

Kepala BPS Bali Agus Gede Hendrayana Hermawan di Denpasar, Selasa (5/5) menjelaskan struktur ekonomi Bali pada triwulan I 2026 dari sisi produksi masih didominasi oleh lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan minum dengan kontribusi sebesar 20,95 persen. Dari sisi pengeluaran, kontribusi terbesar berasal dari komponen konsumsi rumah tangga yang mencapai 54,15 persen.

Baca juga:  Pejudo Senior Bali Sabet 6 Emas di Piala KSAD

“Sementara itu, jika dibandingkan dengan triwulan IV 2025 (q-to-q), ekonomi Bali tercatat terkontraksi sedalam 4,57 persen,” katanya.

Dari sisi produksi, kontraksi terdalam terjadi pada lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan minum sebesar 8,67 persen. Sedangkan dari sisi pengeluaran, komponen pengeluaran konsumsi pemerintah mengalami kontraksi sebesar 35,77 persen.

BPS Bali menilai kontraksi pada triwulan pertama merupakan pola musiman yang kerap terjadi setiap tahun, seiring menurunnya aktivitas ekonomi pasca periode libur akhir tahun.

“Jika dilihat tren historis, triwulan I memang cenderung lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya. Namun secara tahunan, pertumbuhan ekonomi Bali tetap menunjukkan kinerja yang impresif di tengah berbagai tantangan global,” jelasnya.

BPS menilai kontraksi tersebut dipengaruhi berakhirnya momentum libur Natal dan Tahun Baru serta masuknya periode low season pariwisata yang menyebabkan penurunan aktivitas pariwisata dibandingkan triwulan sebelumnya. Selain itu, faktor musiman juga mempengaruhi penurunan produksi pertanian, terutama komoditas padi yang telah melewati puncak panen pada triwulan sebelumnya.

Baca juga:  Mulai Besok Beroperasi, Ini Lokasi Tambahan 11 Pos Vaksinasi di Sanur

Penurunan aktivitas juga terjadi pada sektor perdagangan dan konstruksi yang turut memberikan tekanan terhadap kinerja ekonomi Bali secara keseluruhan.

Dari 17 lapangan usaha penyusun PDRB, sebanyak 15 lapangan usaha tercatat mengalami kontraksi pada triwulan I 2026. Hanya dua lapangan usaha yang tumbuh positif secara q-to-q, yaitu pengadaan air, pengelolaan sampah, limbah dan daur ulang, serta transportasi dan pergudangan.

Kontraksi terdalam terjadi pada lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan minum sebesar 8,67 persen, diikuti jasa perusahaan sebesar 7,18 persen, serta jasa lainnya sebesar 6,86 persen. Selain itu, perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor terkontraksi 6,68 persen, dan konstruksi mengalami kontraksi sebesar 6,16 persen.

Baca juga:  BPOM Keluarkan EUA Lima Vaksin COVID-19 Jadi "Booster"

BPS mencatat kontraksi pada sektor akomodasi dan makan minum sejalan dengan penurunan jumlah kunjungan wisatawan pada triwulan I 2026 yang memasuki periode low season. Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara tercatat 1,47 juta kunjungan, turun 11 persen dibandingkan triwulan IV 2025 yang mencapai 1,65 juta kunjungan. Sementara itu, perjalanan wisatawan nusantara ke Bali juga menurun 4 persen secara q-to-q.

Penurunan aktivitas pariwisata tersebut berdampak pada tingkat penghunian kamar hotel bintang yang turun dari 61,17 persen pada triwulan IV 2025 menjadi 54,87 persen pada triwulan I 2026. Kondisi ini juga berdampak pada melemahnya aktivitas jasa perusahaan, khususnya agen perjalanan wisata, serta jasa lainnya seperti kesenian, hiburan, dan rekreasi.

BAGIKAN