
BANGLI, BALIPOST.com – SMKN 1 Bangli berhasil mewujudkan kemandirian dalam pengelolaan sampah di lingkungan sekolah. Dengan sistem Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber (PSBS), sekolah ini mampu menuntaskan permasalahan sampah langsung di hulu tanpa harus membuangnya ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Untuk menangani sampah organik, SMKN 1 Bangli mengelolanya secara langsung di dalam lingkungan sekolah dengan teba modern (biopori).
Kepala SMKN 1 Bangli, I Nyoman Susila mengungkapkan, saat ini sekolahnya memiliki 23 titik teba modern yang tersebar di berbagai lokasi strategis. Pembangunan teba modern sudah dilakukan pihaknya sejak awal 2022. Pada mulanya, sekolah hanya membangun 9 titik teba modern dengan tujuan utama mengatasi genangan air pascahujan. Namun, inovasi terus berkembang hingga fasilitas tersebut kini berfungsi sebagai pusat pengolahan kompos.
Cara pengelolaanya, sampah organik dicacah dan dimasukan ke dalam teba modern hingga menjadi kompos. Hasil pengolahan tersebut dimanfaatkan kembali untuk pemupukan tanaman di lingkungan sekolah. “Astungkara sejak beberapa tahun terakhir kami sudah tidak pernah lagi beli pupuk organik untuk memupuk tanaman di lingkungan sekolah,” terangnya.
Sementara itu, pengelolaan sampah anorganik difokuskan pada upaya pengurangan dari sumbernya khususnya terhadap penggunaan sampah sekali pakai. “Untuk penanganan sampah anorganik kita melakukannya dengan berbagai cara. Pertama kita mewajibkan siswa bawa Tumbler ke sekolah. Kedua kita melakukan intervensi terhadap kantin untuk membatasi sampah plastik sekali pakai, sedotan plastik, sterofoam, termasuk barang-barang yang dijual di kantin diusahakan sedikit mungkin menggunakan kemasan berbahan plastik maupun sterofoam,” jelasnya.
Lebih lanjut dikatakan, saat ini kantin di sekolahnya sudah mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan tidak lagi menjual air kemasan plastik, melainkan beralih menggunakan galon dan botol kaca. “Dengan berbagai langkah itu timbulan sampah plastik berhasil kita kurangi 80 hingga 90 persen,” jelas Susila.
Konsistensi dalam penerapan PSBS ini membawa SMKN 1 Bangli meraih prestasi. Pada Lomba PSBS 2025, sekolah ini berhasil menjadi lima terbaik di Provinsi Bali dan menerima penghargaan dari Ketua Tim Penggerak PKK (Posyandu) Provinsi Bali.
Pada 2026 ini SMKN 1 Bangli mendapatkan tugas untuk melakukan pengimbasan atau sosialisasi ke sekolah-sekolah lain. Kasek asal Antugan, Desa Jehem itu mengatakan hingga saat ini pihaknya telah mengunjungi lima sekolah untuk menularkan praktik PSBS. “Target kami sebanyak-banyaknya sekolah bisa terimbas,” jelasnya.
Meski terbilang sukses mengelola sampah, Susila mengakui bahwa tantangan utama sekolah adalah menjaga keberlanjutan budaya PSBS. Setiap tahun ajaran baru, sekolah harus kembali menanamkan budaya tersebut kepada siswa baru. Namun, dengan sinergi seluruh warga sekolah, SMKN 1 Bangli optimis budaya baik ini tetap terjaga. (Dayu Swasrina/balipost)










