
DENPASAR, BALIPOST.com – Bali disebut sebagai salah satu wilayah di Indonesia yang memiliki potensi terdampak gempa megathrust. Hal ini tidak lepas dari posisi Pulau Dewata yang berada di kawasan Ring of Fire, jalur cincin api Pasifik yang dikenal aktif secara tektonik.
Isu potensi gempa besar bahkan menyebut kekuatan bisa mencapai magnitudo 9,0 skala Richter (SR). Namun, pihak Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa informasi tersebut bukanlah prediksi waktu kejadian, melainkan bagian dari upaya mitigasi bencana.
Pengamat Meteorologi dan Geofisika Muda BBMKG Wilayah III Denpasar, Yogha Mahardika menjelaskan bahwa Bali memang memiliki potensi gempa megathrust, khususnya dari segmen Sumba.
“Berdasarkan buku Pusat Studi Gempabumi Nasional tahun 2024, Bali masuk dalam wilayah yang berpotensi terdampak aktivitas megathrust segmen Sumba. Namun ini bukan prediksi atau ramalan, melainkan bentuk edukasi mitigasi agar masyarakat selalu waspada,” ujarnya saat dikonfirmasi, Sabtu (18/4).
Dalam Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024, tercatat terdapat 14 zona megathrust yang mengelilingi Indonesia. Jumlah ini meningkat dibandingkan peta tahun 2017 yang hanya mencatat 13 zona.
Beberapa zona bahkan memiliki potensi gempa sangat besar, seperti zona Jawa dengan magnitudo maksimum hingga 9,1, serta zona Enggano dan Mentawai-Pagai yang masing-masing berpotensi mencapai magnitudo 8,9. Sementara itu, segmen Sumba yang berdekatan dengan Bali memiliki potensi hingga magnitudo 8,9.
BMKG juga mengungkapkan adanya dua zona yang saat ini menjadi perhatian serius karena berstatus seismic gap, yaitu wilayah yang menyimpan energi besar akibat lama tidak mengalami gempa signifikan. Kedua zona tersebut adalah Megathrust Selat Sunda yang terakhir mengalami gempa pada 1757, serta Mentawai-Siberut pada 1797.
Kondisi ini disebut “tinggal menunggu waktu” dalam konteks ilmiah, yakni potensi pelepasan energi yang belum terjadi dalam waktu lama. Meski demikian, BMKG kembali menegaskan bahwa hingga kini belum ada teknologi yang mampu memprediksi secara pasti kapan gempa akan terjadi.
Masyarakat pun diimbau untuk tidak panik, namun meningkatkan kesiapsiagaan, terutama dengan memahami langkah evakuasi mandiri, mengenali jalur aman, serta mengikuti informasi resmi dari BMKG. (Ketut Winata/balipost)










