Wakil Menteri Kebudayaan, Giring Ganesha memberikan sambutan pada pelaksanaan Dharma Santi Nasional 2026 di Taman Budaya, Denpasar, Jumat (17/4) malam. (BP/eka)

DENPASAR, BALIPOST.com – Ajaran Hari Raya Nyepi dinilai memiliki makna yang melampaui batas ritual keagamaan, bahkan menjadi inspirasi global di tengah upaya dunia membangun kesadaran lingkungan. Wakil Menteri Kebudayaan, Giring Ganesha menegaskan, saat banyak negara masih mendorong gerakan seperti Earth Hour, masyarakat Bali telah lama menjalankan praktik nyata melalui tradisi Nyepi yang sarat makna keheningan dan harmoni.

Hal tersebut disampaikan saat mewakili Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, dalam Dharma Santi Nasional 2026 di Panggung Ardha Candra, Taman Budaya Art Centre, Jumat (17/4). Dalam sambutannya, Giring menekankan bahwa Nyepi bukan sekadar perayaan di tengah dunia yang serba cepat, melainkan momentum untuk menepi dan kembali ke dalam diri.

Baca juga:  Baliho Parpol Diturunkan saat Kunker Jokowi di Bali, Ini Tanggapan Pj Gubernur

Keheningan, menurutnya, mengajak manusia merefleksikan jati diri, arah hidup, serta hubungan dengan sesama dan alam semesta. “Nyepi bukan sekedar perayaan di tengah dunia yang riuh dan serba cepat. Nyepi mengajarkan kita untuk menepi, kembali ke dalam diri,” katanya.

Ia mengungkapkan, pemaknaan tersebut sejalan dengan ajaran dalam Bhagavad Gita yang dipelajarinya, terutama konsep karma yoga, dhyana yoga, dan bakti yoga. Karma yoga mengajarkan tindakan tanpa keterikatan hasil, sementara dhyana yoga menekankan pengendalian pikiran melalui meditasi, dan bakti yoga mengajarkan ketulusan dalam berserah.

Baca juga:  Otban Wilayah IV Beberkan Kronologi Jatuhnya Helikopter di Wilayah Suluban

Menurut Giring, nilai-nilai tersebut relevan dengan dinamika global saat ini. Dunia kata dia, tidak hanya membutuhkan kekuatan ekonomi dan militer, tetapi juga kebijaksanaan hidup. “Melalui nilai seperti Nyepi, kita diajak menemukan keseimbangan batin yang tidak bergantung pada kondisi eksternal,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia mengaitkan filosofi Nyepi dengan konsep lokal Bali, yakni Tri Hita Karana, yang menekankan harmoni antara manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam. Nilai ini dinilai menjadi fondasi kekuatan budaya dan spiritual masyarakat Bali yang tetap adaptif di tengah perubahan global.

Baca juga:  Dari Biaya Hidup Makin Mahal hingga Inmendagri No. 20 Tahun 2022

Dalam konteks nasional, Giring juga menyinggung berbagai program pembangunan yang digagas Presiden Prabowo Subianto yang diarahkan untuk kesejahteraan masyarakat, penguatan toleransi, serta pembangunan yang selaras dengan lingkungan.

Mengakhiri sambutannya, ia mengajak masyarakat untuk terus menjaga dan mewariskan nilai-nilai luhur tersebut. Ia menegaskan, warisan budaya seperti Nyepi tidak hanya penting bagi Indonesia, tetapi juga berpotensi menjadi rujukan dunia dalam membangun kehidupan yang lebih harmonis dan berkelanjutan. (Widiastuti/balipost)

BAGIKAN