Petugas sedang melakukan pemilahan dan pengolahan sampah di TPST Kesiman Kertalangu, Denpasar. TPST ini difokuskan untuk mengolah sampah organik. (BP/eka)

DENPASAR, BALIPOST.com – Rencana pembangunan waste to energy (WtE) nantinya membutuhkan sampah berkualitas, dalam hal ini telah terpilah dengan baik. Hal tersebut tidaklah mudah yang harus dipersiapkan sejak dini untuk pengoperasian WtE 3 tahun nanti. Sehingga TPA Suwung yang menjadi wilayah pembangunan WtE nantinya harus dibiasakan menampung sampan anorganik.

Hal tersebut diungkapkan oleh Menteri Lingkungan Hidup RI, Hanif Faisol Nurofiq di sela-sela kunjungannya ke TPST Kesiman Kertalangu, Jumat (17/4).

Menurutnya, persiapan pengembangan teknologi pengolahan sampah menjadi energi tersebut harus dilakukan sejak dini agar dalam kurun waktu tiga tahun ke depan, saat fasilitas WtE mulai beroperasi, ketersediaan sampah yang sesuai spesifikasi sudah terpenuhi.

Baca juga:  Pemkot Denpasar Akan Bangun Ribuan Teba Modern di Hulu

“Waste to energy memerlukan sampah berkualitas. Artinya sampah yang sudah terpilah dan tidak tercampur dengan material yang dapat menurunkan nilai kalor maupun kinerja mesin,” ujarnya.

Ia menambahkan, untuk mendukung hal tersebut, pemerintah mulai mengarahkan agar hanya sampah anorganik yang masuk ke TPA Suwung. Kebijakan ini dinilai penting sebagai bagian dari penyiapan sistem pengelolaan sampah berbasis teknologi di masa mendatang.

Dalam kesempatan itu, Menteri Hanif juga mengapresiasi perkembangan pengelolaan sampah di Bali yang dinilai mengalami kemajuan signifikan. Berdasarkan data yang dihimpun, lebih dari 60 persen masyarakat telah mulai melakukan pemilahan sampah.

Baca juga:  Ini Sebab Retribusi Sampah Tidak Capai Target

“Ini merupakan lompatan budaya yang tidak mudah. Perubahan perilaku masyarakat dalam memilah sampah membutuhkan kerja keras seluruh pihak, mulai dari pemerintah daerah hingga desa adat,” katanya.

Ia menyebutkan, operasional TPST Kesiman Kertalangu yang mulai berjalan menjadi salah satu indikator kemajuan tersebut. Fasilitas yang sebelumnya tidak beroperasi sejak dibangun pada 2021 kini telah mampu mengolah sekitar 60 hingga 80 ton sampah per hari, dan ditargetkan meningkat hingga 200 ton per hari.

Baca juga:  Pelajar SMK-Kejar Paket A Jadi Kurir Narkoba

Selain itu, peningkatan kapasitas pengolahan juga dilakukan di sejumlah titik lain yakni TPST Tahura I dan TPST Tahura II. Dengan itu secara keseluruhan mampu menangani hingga 500 ton sampah per hari melalui fasilitas pengolahan yang sebelumnya tidak optimal. (Widiastuti/bisnisbali)

 

BAGIKAN