ST Satria Pajerakan dari Banjar Triwangsa, Desa Kiliki Tegallalang, membawa pesan mendalam melalui karya ogoh-ogoh bertajuk "Melepeh". (BP/istimewa)

GIANYAR, BALIPOST.com – Pemuda ST Satria Pajerakan kembali menunjukkan kelasnya. Tidak hanya sekedar ajang unjuk estetika, Sekaa Teruna (ST) Satria Pajerakan dari Banjar Triwangsa, Desa Kiliki, Tegallalang, Gianyar ini membawa pesan mendalam melalui karya ogoh-ogoh bertajuk “Melepeh”.

Ogoh-ogoh ini sebelumnya meraih juara 1 tingkat Kecamatan Tegallalang. Karya ini menjadi sorotan lantaran keberaniannya mengangkat fenomena kesehatan mental dan isu sosial yang tengah marak, sekaligus komitmen kuat terhadap kelestarian lingkungan.

Ketua ST. Satria Pajerakan, Ngakan Putu Krisna Mukti, mengungkapkan konsep “Melepeh” lahir dari keprihatinan terhadap meningkatnya kasus kematian tidak wajar, seperti bunuh diri (ulah pati). Secara bahasa, Melepeh mengandung makna menetralisir atau memulihkan keseimbangan.

Baca juga:  Ogoh-ogoh Wangaya Klod Terbakar

“Inspirasinya dari banyaknya kejadian tragis belakangan ini. Kami juga mengaitkannya dengan tradisi upacara Tawur Nawa Gempang yang baru saja dilaksanakan di Desa Kiliki sebagai upaya pembersihan energi negatif atau kedurmongala,” ujar Krisna, Jumat (17/4).

Secara visual, ogoh-ogoh ini menampilkan sosok raksasa bertangan sepuluh yang merupakan representasi Dewi Pertiwi. Uniknya, bagian kepala raksasa tersebut didesain dapat terbuka dan tertutup berubah dari wajah menyeramkan menjadi wajah yang cantik sebagai simbol bahwa kegelapan dan kesalahan manusia selalu memiliki ruang untuk disucikan kembali menjadi kebaikan.

Di tengah isu sampah plastik yang menghantui Bali, ST. Satria Pajerakan mengambil langkah progresif. Seluruh anatomi ogoh-ogoh ini dibuat dari material organik dan barang bekas, meliputi serabut kelapa untuk memberikan detail tekstur kulit dan anatomi tubuh. Kaleng bekas diolah secara artistik menjadi ornamen dedaunan. Plaster bahan alami menggantikan peran styrofoam guna memastikan karya ini ramah lingkungan.

Baca juga:  Ni Luh Mitayuni Lolos ke PON 2020

Proses pengerjaan dilakukan sepenuhnya secara mandiri dengan memberdayakan potensi internal Banjar Triwangsa. Sebanyak 12 undagi utama yang dipimpin oleh tim kreatif seperti Kanjun Tatto, Rahtu Gosong, hingga Isma Pramana sebagai pembuat konsep, bahu-membahu melibatkan seluruh anggota pemuda.

“Kami memaksimalkan semua potensi dari banjar sendiri. Mulai dari tukang las untuk kerangka mesin hingga tukang cat, semuanya lokal. Kami ingin membuktikan bahwa lokalitas kita mampu menghasilkan karya yang luar biasa,” tambah Krisna.

Baca juga:  Dilaporkan Pengelapan Pesanan Baju Ogoh-ogoh, Ternyata Belasan Juta Rupiah Digunakan Berjudi

Melalui narasi yang diambil dari kitab Sarasamuscaya dan Lontar Sundarigama, ogoh-ogoh ini menggambarkan berbagai realita pahit kehidupan, mulai dari penggambaran orang yang gantung diri hingga korban bencana alam (salah pati). Namun, di tengah kengerian itu, terdapat sosok manusia yang sedang melukat (penyucian diri).

Karya ST. Satria Pajerakan ini diharapkan menjadi pengingat bagi masyarakat luas bahwa di tengah tantangan zaman yang berat, menjaga keseimbangan antara Bhuana Agung (alam) dan Bhuana Alit (manusia) melalui pengetahuan dan religiusitas adalah kunci utama untuk bertahan. (Wirnaya/balipost)

 

BAGIKAN