Menyambut perayaan Hari Tumpek Landep, benda pusaka berupa tiga bilah keris yang tersimpan di Museum Bali dibersihkan, Jumat (17/4). (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Menyambut Hari Raya Tumpek Landep, Sabtu (18/4), Pemerintah Provinsi Bali melalui Dinas Kebudayaan (Disbud) Provinsi Bali akan melaksanakan persembahyangan bersama di Pura Luhur Andakasa, Karangasem.

Kepala Dinas Kebudayaan Bali, Ida Bagus Alit Suryana, menjelaskan bahwa rangkaian kegiatan di lingkungan Pemprov Bali terfokus pada persembahyangan sebagai inti dari perayaan Tumpek Landep.

“Untuk di Pemprov, besok ada persembahyangan di Pura Andakasa. Kegiatannya sederhana, selesai sembahyang ya sudah, karena ini memang berkaitan dengan penyucian diri atau atma kerthi,” ujarnya saat dikonfirmasi, Jumat (17/4).

Ia menegaskan, Tumpek Landep tidak sekadar dimaknai sebagai hari untuk menyucikan benda-benda seperti senjata atau kendaraan, tetapi memiliki filosofi mendalam terkait kecerdasan dan pengendalian pikiran.

Baca juga:  Terima Hibah Cath Lab, RSUD Tabanan Siapkan Layanan Kateterisasi Jantung

“Landep itu maknanya pikiran yang tajam, cerdas, dan selalu diarahkan pada hal-hal positif. Ini tentang bagaimana manusia menggunakan kecerdasannya untuk menjalani kehidupan,” jelasnya.

Menurutnya, tradisi yang berkembang di masyarakat Bali selama ini memang identik dengan upacara terhadap senjata dan kini meluas ke kendaraan. Hal itu, kata dia, merupakan simbol dari kemampuan manusia dalam menciptakan alat bantu kehidupan melalui kecerdasan.

“Senjata dan kendaraan itu wujud hasil olah pikir manusia. Maka disucikan sebagai bentuk penghormatan terhadap kecerdasan itu sendiri,” tambahnya.

Baca juga:  Pupuk Kebersamaan, Sejak 1973 Warga Pumahan Lestarikan Megibung

Lebih jauh, ia mengaitkan Tumpek Landep dengan konsep penyucian jiwa (atma kerthi), yang bertujuan membangkitkan kesadaran diri dan jati diri manusia Bali berbasis kearifan lokal. “Tumpek Landep ini momentum penyucian jiwa, agar kesadaran diri muncul. Ini penting untuk membangun karakter dan jati diri,” katanya.

Ia pun menegaskan bahwa umat Hindu tidak sekadar dianjurkan, tetapi sudah seharusnya melaksanakan persembahyangan pada hari suci ini sebagai bagian dari warisan leluhur.

Selain kegiatan persembahyangan, Disbud Bali juga telah melaksanakan penyucian benda pusaka berupa tiga bilah keris yang tersimpan di Museum Bali. Prosesi dilakukan secara sekala dan niskala, Jumat (17/4).

Baca juga:  Peringati HUT RI ke-73, Veteran di Bangli Dapat Tali Kasih

Secara sekala, keris dibersihkan menggunakan bahan khusus seperti minyak dan cairan yang aman agar tidak merusak logam. Sementara secara niskala, dilakukan upacara untuk memohon izin serta menyucikan kembali benda sakral tersebut.

“Keris itu kami rawat dengan hati-hati, baik secara fisik maupun spiritual. Setelah dibersihkan, juga dihaturkan upacara agar tetap suci,” ungkapnya.

Terkait asal-usul keris tersebut, ia menyebut belum ada sumber tertulis yang memastikan kaitannya dengan sejarah perjuangan, meski di masyarakat berkembang cerita demikian. “Informasi itu ada di masyarakat, tapi kami belum menemukan sumber tertulisnya, jadi belum bisa memastikan,” pungkasnya. (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN