Krama Desa Adat Buleleng Laksanakan Tradisi Mapepada. (BP/Ist)

SINGARAJA, BALIPOST.com – Krama Desa Adat Buleleng melaksanakan upacara Mapepada, Selasa (17/3), sebagai rangkaian menjelang Tawur Kesanga. Tradisi ini menjadi bagian penting dalam penyucian sarana upacara, khususnya hewan yang akan digunakan dalam pecaruan saat Nyepi.

Tahun ini, sebanyak 21 ekor hewan mengikuti prosesi Mapepada. Hewan tersebut terdiri atas kerbau, anak sapi (godel), kambing, babi, anjing, serta unggas seperti ayam, itik, dan angsa. Seluruh hewan disucikan melalui rangkaian ritual yang dilaksanakan di pura Desa.

Baca juga:  Serap Masukan Parpol, KPU Gianyar Laksanakan Uji Publik Rancangan Penataan Dapil

Upacara dipuput sulinggih Ida Pandita Mpu Ratangkara Bayu Sagara Gni Ananda Wijaya Nantha dari Griya Taman Aswameda Asram Yeh Taluh. Prosesi berlangsung khidmat, dengan setiap tahapan dilaksanakan sesuai tuntunan sastra agama.

Kelian Desa Adat Buleleng, Nyoman Sutrisna, mengatakan Mapepada berlandaskan pada lontar Bama Kerti dan Ciwa Gama. Penyucian ini, kata dia, bertujuan menjaga kesucian hewan sebagai sarana upacara sebelum digunakan dalam Tawur Kesanga.

Baca juga:  Krama Pura Kahyangan Jagat Penyusuhan Penegil Dharma Nedunang Pusaka Lontar Sakral

“Tradisi ini bertujuan menyucikan hewan sebagai sarana upacara. Kami juga sudah berkoordinasi dengan Banjar Adat Kampung Anyar yang menyiapkan banten pecaruan,” ujarnya.

Usai prosesi di pura, hewan yang telah disucikan diarak menuju Catus Pata Desa Adat Buleleng. Lokasi tersebut akan menjadi pusat pelaksanaan Tawur Kesanga pada Rabu (18/3), yang dirangkaikan dengan upacara pecaruan dalam rangka menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Caka 1948.

Baca juga:  UMK Jembrana Tahun 2020 Diusulkan Naik Rp 200 Ribu

Tradisi Mapepada di Desa Adat Buleleng telah berlangsung sejak 1835 dan menjadi bagian dari kehidupan spiritual masyarakat setempat. Tahun ini, Banjar Adat Kampung Anyar mendapat tugas sebagai ngewalung atau pelaksana upacara.

“Setiap tahunnya, Desa Adat Buleleng yang terdiri dari 14 Banjar Adat secara bergilir untuk ngewalung,” tandasnya. (Yudha/balipost)

 

BAGIKAN