Ilustrasi. (BP/Dok. BMKG)

DENPASAR, BALIPOST.com – Masyarakat Indonesia bersiap menyaksikan salah satu fenomena langit paling dinanti tahun ini. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan akan terjadi Gerhana Bulan Total (GBT) pada Selasa (3/3), dan peristiwa ini dapat diamati langsung dari berbagai wilayah Tanah Air, termasuk Bali yang kebagian puncaknya selama 59 menit.

Ketua Tim Manajemen Operasional Geofisika BBMKG Wilayah III, Ein Nuzulul Laily, saat dikonfirmasi Bali Post Senin (2/3), menjelaskan bahwa gerhana bulan total kali ini tidak hanya dapat disaksikan dari Indonesia. Gerhana juga dapat dilihat di Amerika, Australia, serta Asia bagian Timur, Tenggara, dan Tengah.

Baca juga:  Mulai Berlaku 1 Mei, 8 Desa Diminta Ikuti Jadwal Buang Sampah ke TPS Kreneng

Untuk wilayah Bali, rincian fase Gerhana Bulan Total yang bisa dilihat adalah Gerhana Penumbra mulai (P1) 16.44.22 WITA. Gerhana Sebagian mulai (U1) 17.50.00 WITA. Gerhana Total mulai (U2) 19.04.26 WITA. Puncak Gerhana (MID) 19.34.52 WITA. Gerhana Total berakhir (U3) 20.02.45 WITA. Gerhana Sebagian berakhir (U4) 21.17.10 WITA. Dan Gerhana Penumbra berakhir (P4) 22.22.59 WITA.

Secara keseluruhan, durasi gerhana sejak awal hingga akhir akan berlangsung selama 5 jam 41 menit 51 detik. Durasi fase parsial mencapai 3 jam 27 menit 47 detik, sementara fase totalitas—saat Bulan sepenuhnya berada dalam bayangan umbra Bumi, akan berlangsung selama 59 menit 27 detik.

Baca juga:  Asisten Administrasi Umum Setda Bangli Tutup Usia

Gerhana Bulan terjadi akibat dinamisnya posisi Matahari, Bumi, dan Bulan yang hanya terjadi saat fase bulan purnama. Gerhana Bulan Total secara spesifik terjadi ketika Matahari, Bumi, dan Bulan berada dalam satu garis lurus, sehingga Bulan masuk sepenuhnya ke dalam bayangan inti (umbra) Bumi.

Pada fase totalitas, Bulan biasanya tampak berwarna merah tembaga atau sering disebut sebagai blood moon. Warna tersebut muncul karena pembiasan cahaya Matahari oleh atmosfer Bumi.

Baca juga:  Belasan Rumah di Cianjur Rusak Ringan Akibat Gempa

Berbeda dengan gerhana matahari, gerhana bulan aman disaksikan dengan mata telanjang tanpa alat bantu khusus.

BMKG mengimbau masyarakat untuk memilih lokasi pengamatan yang minim polusi cahaya dan cuaca cerah agar fenomena ini dapat terlihat optimal. Fenomena langit ini diprediksi menjadi momen spesial bagi pecinta astronomi, fotografer, hingga masyarakat umum yang ingin menikmati pertunjukan alam secara langsung dari langit Bali. (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN