Kepala Dinas Kominfos Provinsi Bali, Gede Pramana (kiri). (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Perayaan Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1948 pada Kamis (19/3) kembali menghadirkan “hening digital” di Bali. Selama 24 jam, paket data seluler dinonaktifkan, sementara layanan telepon dan SMS tetap berjalan.

Di sisi lain, akses internet melalui WiFi tidak terdampak dan tetap berfungsi normal saat umat Hindu melakukan tapa brata penyepian.

Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik Provinsi Bali, Gede Pramana, menegaskan kebijakan ini bukan mematikan sinyal sepenuhnya, melainkan hanya menghentikan paket data pada telepon seluler. “Bukan sinyalnya yang dimatikan, tapi paket datanya. Untuk telepon dan SMS masih bisa,” ujarnya di Sanur, Sabtu (28/2).

Baca juga:  Satpol PP Tegur Warga Buang Limbah ke Sungai

Ia memastikan tidak ada penurunan kecepatan internet untuk pelanggan WiFi rumah tangga. Sepanjang tidak terjadi gangguan teknis dari penyedia layanan, koneksi tetap berjalan seperti biasa.

“WiFi dan internet di rumah tetap normal, tidak ada penurunan kecepatan. Yang dimatikan itu paket data di HP saja,” jelasnya.

Kebijakan ini menegaskan pola pembatasan yang sudah berlangsung rutin setiap Nyepi. Biasanya, penonaktifan paket data dilakukan mulai pukul 06.00 WITA hingga 06.00 WITA keesokan harinya.

Baca juga:  DPRD Badung Kecewa, Internet Gratis Tak Berfungsi Maksimal

Meski mayoritas layanan data seluler dihentikan, sejumlah fasilitas vital tetap mendapatkan akses konektivitas. Layanan keamanan, kesehatan, dan objek vital lainnya dapat tetap aktif melalui mekanisme perizinan resmi.

Koordinasi teknis dilakukan melalui pemerintah pusat. Pemprov Bali telah bersurat ke kementerian terkait, yang kemudian menggelar rapat koordinasi dengan para provider telekomunikasi dan stasiun televisi.

“Biasanya dari pusat yang mengumpulkan, rapat koordinasi lewat Zoom. Nanti kementerian yang menyampaikan ke provider dan televisi,” katanya.

Tak hanya data seluler, siaran televisi lokal di Bali juga dimatikan selama pelaksanaan Nyepi. Kebijakan ini merupakan permintaan pemerintah daerah sebagai bentuk penghormatan terhadap Catur Brata Penyepian. “Kalau televisi di Bali, khususnya, dimatikan siarannya. Itu permintaan dari kita,” tegasnya.

Baca juga:  Jangan Didiskusikan

Menanggapi pertanyaan soal tetap aktifnya WiFi rumah, Gede Pramana menekankan bahwa esensi Nyepi tetap kembali pada kesadaran masing-masing individu. “Artinya kembali kepada kita. Walaupun tidak ada imbauan melarang secara teknis, kalau kita sebagai umat yang taat, ya kita tidak menggunakan,” tandasnya. (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN