Dokter Forensik RSUP Prof. Ngoerah, dr. Nola Margaret Gunawan. (BP/wid)

DENPASAR, BALIPOST.com – Forensik RSUP Prof. Ngoerah mengungkap hasil pemeriksaan terhadap potongan tubuh manusia yang ditemukan di Pantai Ketewel, Sukawati, Gianyar, pada Kamis (26/2). Dari hasil pemeriksaan sementara yang diungkap, Jumat (27/2), potongan tubuh telah membusuk dan diperkirakan meninggal lebih dari 3 hari.

Dokter Forensik RSUP Prof Ngoerah. dr. Nola Margaret Gunawan membeberkan, potongan tubuh yang diterima dari Polsek Sukawati tersebut berupa kepala, dada, bahu, lengan dan paha.

“Yang mengantar (potongan tubuh) dari Polsek Sukawati sudah dalam membusuk lanjut. Diantar sekitar pukul 16.00 WITA. Baru sampai di situ saja pemeriksaan yang kami lakukan, jadi masih berkoordinasi lebih detail dengan Polsek Sukawati,” jelas Nola.

Baca juga:  Kebakaran Landa Pura Segara dan Pura Dalem Rangkan Desa Ketewel, Kerugian Capai 3 Miliar

Dia mengaku belum melakukan pemeriksaan secara detail mengingat jenazah datangnya di sore hari. Namun, kematian korban diperkirakan sudah lebih dari tiga hari. “Karena sudah membusuk lanjut, diperkirakan sudah lebih dari tiga hari,” imbuhnya.

Untuk tindakan autopsi, pihaknya masih menanti permintaan dari Polsek Sukawati atau Polres Gianyar dan sampai saat ini pihaknya masih terus berkoordinasi dengan penyidik. Disinggung terkait apakah potongan badan korban termasuk potongan profesional, Nola menjawab sulit ditentukan kalau dari sekilas karena jenazah sudah dalam kondisi membusuk lanjut.

Baca juga:  WNA Asal Jepang Ditemukan Meninggal

“Nanti ketika pada akhirnya diatuopsi kita berharap ada temuan yang bisa mengarahkan apakah ini potongan rapi atau tidak, itu bisa terjawab. Kalau identifikasi khusus memang ada, tapi kami tidak coba bongkar lebih detail karena ini terkait dengan penyidikan,” terangnya.

Untuk penentuan apakah korban merupakan WNA atau WNI juga sulit terjawab sebab secara visual tak dapat ditentukan dalam kondisi potongan badan korban sudah membusuk. Untuk mengetahui kewarganegaraanya, harus dilakukan tes DNA, namun DNA juga tidak bisa menunjukkan korban warga negara apa, melainkan dapat menunjukkan korban ini siapa.

Baca juga:  Tak Berizin, Pengelola Perumahan dan Pondok Wisata Dijatuhi SP 1

“Dari sana bisa dilacak dia warga negara apa. Sebenarnya kalau dari aspek antropologi, dari struktur tulangnya baru kita bisa menentukan kedekatan populasi dengan kelompok mana, apakah mongoloid, negroid, dan sebagainya,” bebernya. (Widiastuti/balipost)

BAGIKAN