Serah terima izin pendirian dan operasional Widyalaya Kumara Loka oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama RI Provinsi Bali I Gusti Made Sunartha kepada Wakil Wali Kota Denpasar Kadek Agus Arya Wibawa, Rabu (25/2). (BP/istimewa)

 

DENPASAR, BALIPOST.com – Setelah terbentuk di beberapa wilayah di Bali dan Indonesia, widyalaya akhirnya terbentuk di Denpasar. Berlokasi di Desat Adat Panjer, Widyalaya Tingkat Pratama (TK) menjadi sekolah formal berbasis Hindu pertama di Denpasar. Kedepan pembentukan widyalaya terus didorong yang menekanan basis desa adat.

Wakil Wali Kota Denpasar Kadek Agus Arya Wibawa saat acara serah terima izin Pendirian dan Operasional Widyalaya Kumara Loka, Rabu (25/2) mengatakan, keberadaan widyalaya sesuai dengan misi Pemerintah Kota Denpasar dalam penguatan jati diri dan pemberdayaan masyarakat berlandaskan budaya Bali.

“Yang mana dalam budaya Bali itu ada adat, agama, seni dan budaya. Ini yang kita perkuat, oleh karena itu di dalam widyalaya ini sangat penting,” katanya.

Baca juga:  Belasan Mahasiswa Datangi DPRD Buleleng, Sampaikan Aspirasi soal Isu Nasional hingga Pendidikan

Terlebih dalam pendidikan widyalaya bertujuan membentuk SDM yang berkualitas bukan sekedar kuantitas. Demikian widyalaya didorong bisa terbentuk di wilayah lainnya di Denpasar. Saat ini Arya Wibawa mengatakan Pemerintah Kota Denpasar tengah mendata potensi-potensi wilayah yang bisa mewujudkan konsep pendidikan widyalaya tersebut.

“Dan satu hal yang kami tekankan, karena ini akan berkolaborasi dan berbasis desa adat. Nah ini mungkin yang akan menjadi pembeda kami, Widyalaya nantinya bebasis desa adat,” katanya.

Baca juga:  Diperintah Willy Ambil Sabu di Ubud, Residivis Dituntut 9 Tahun

Sementara itu, anggota DPD RI Komite III Perwakilan Bali, Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra mengatakan, di Denpasar sebenarnya sudah terbentuk 2 widyalaya, satu diantaranya adalah widyalaya inklusif.

Dia menjelaskan sejak awal pihaknya mendorong konsep widyalaya berbasis desa adat. “Kita mengkondisikan widyalaya itu berbasis desa adat, karena kita lihat desa adat itu rata-rata punya tanah, rata-rata punya likuiditas dan rata-rata punya TK. Itu menjadi modal awal untuk membangun Widyalaya dari akar,” ujarnya.

Ia menambahkan, Desa Adat yang memiliki likuiditas baik sangat memungkinkan membentuk yayasan pendidikan mulai jenjang TK, SD, SMP hingga SMA. Model ini, kata dia, telah banyak diterapkan lembaga pendidikan berbasis yayasan di daerah lain, bahkan dipadukan dengan kurikulum internasional. “Kalau Desa Adat siap dan mampu, bisa membangun dari TK sampai SMA. Itu sangat memungkinkan,” jelasnya.

Baca juga:  Kasus LPD Belusung, Sidang Adat Mencuat di Pengadilan Tipikor

Lebih lanjut dijelaskan, Widyalaya merupakan sekolah berbasis nilai dan tradisi, dengan komposisi pembelajaran sekitar 40 persen penguatan nilai, norma, dan keimanan, serta 60 persen pembelajaran umum sesuai standar nasional bahkan internasional. Dengan demikian, siswa diharapkan mampu mengejar kemajuan ilmu pengetahuan tanpa kehilangan arah dan pengendalian diri. (Widiastuti/balipost)

BAGIKAN