Komunitas Malu Dong melibatkan anak-anak SDN 11 Sanur melakukan aksi bersih-bersih Pantai Mertasari, Sanur, Sabtu (21/2). (BP/win)

DENPASAR, BALIPOST.com – TPA Suwung dijadwalkan akan tutup per 1 Maret 2026. Namun, pendiri komunitas lingkungan Malu Dong, Komang Sudiarta, menilai TPA Suwung untuk sementara waktu belum bisa ditutup sebelum persoalan sampah di tingkat sumber benar-benar tuntas.

Menurutnya, penutupan TPA Suwung hanya bisa dilakukan jika masyarakat dan desa-desa sudah mampu menyelesaikan persoalan sampah sejak dari hulu, mulai dari pengurangan, pemilahan, hingga pengolahan residu.

“Saya melihat dari komunitas bahwa TPA Suwung belum bisa ditutup. Dasarnya kalau masyarakat di sumbernya sudah bisa menyelesaikan sampahnya sampai tuntas. Sampai saat ini kan belum bisa, belum terbangun, belum bisa memilah, belum bisa mengurangi,” tegas Sudiarta saat ditemui disela-sela aksi bersih-bersih sampah di Pantai Mertasari, Sanur, Sabtu (21/2).

Pria yang akrab disapa Mang Bemo ini mencontohkan kondisi di sejumlah wilayah yang masih kebingungan menangani sampah. TPST dan TPS3R disebutnya belum berjalan optimal, bahkan pengelolaan residu masih belum jelas arah penanganannya.

Baca juga:  Dari Bali Bisa Naik ke PPKM Level 4 hingga Ditertibkan Pedagang di Jalan Kartini

Jika tempat pembuangan ditutup tanpa kesiapan sistem, ia khawatir sampah akan menumpuk di mana-mana dan memicu praktik pembakaran liar. “Kalau TPA tutup tanpa kesiapan, itu akan jadi persoalan besar. Sampah bisa ada di mana-mana, pembakaran akan terjadi,” ujarnya.

Sudiarta menekankan bahwa persoalan sampah bukan semata tanggung jawab masyarakat, tetapi juga pemerintah. Salah satu tanggung jawab utama pemerintah, menurutnya, adalah edukasi dan sosialisasi yang konsisten. “Bangun dulu manusianya. Sebelum proses memilah dan mengurangi, manusianya harus terbangun. Kalau manusianya belum siap, masih nyaman dengan pola lama, ya sulit,” tandasnya.

Ia menilai, membangun kesadaran tidak cukup hanya lewat edukasi formal, tetapi juga melalui pembiasaan. Kegiatan rutin seperti aksi bersih-bersih dinilai efektif membentuk kepedulian. “Kalau anak-anak rutin diajak bersih-bersih, lama-lama mereka akan peduli. Mereka mulai marah kalau lihat orang buang sampah sembarangan. Itu tanda kesadaran mulai tumbuh,” ujarnya.

Baca juga:  Datang Minta Maaf, Bule Perempuan Pose Bugil di Pohon Sakral Pura Babakan Dibawa ke Polres

Terkait rencana pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL) atau waste to energy (WtE), Sudiarta mengaku masih belum mendapat informasi jelas. Ia mempertanyakan jenis sampah apa yang akan digunakan. “Kalau di luar negeri, biasanya yang dijadikan listrik itu sampah residu. Nah, masyarakat kita sudah siap belum memilah? Ini harus jelas. Apakah semua sampah bisa dipakai, atau khusus residu?” tanyanya.

Menurutnya, tanpa sistem pemilahan yang baik, program pengolahan sampah menjadi energi listrik akan sulit berjalan efektif. Pengelolaan harus terintegrasi dari hulu ke hilir, masyarakat mampu memilah, tersedia tempat pemrosesan, serta sistem pengangkutan yang profesional.

Selama 17 tahun terakhir, Sudiarta bersama Komunitas Malu Dong aktif melakukan aksi bersih-bersih di pantai, gunung, dan desa, sekaligus memberikan edukasi kepada pelajar tentang pentingnya menjaga lingkungan.

Baca juga:  Dari Ditemukan Tewas Bersimbah Darah Bunuh Diri Gunakan Kapak hingga Tambahan Korban Jiwa COVID-19 Dilaporkan Hari Ini

Salah satu aksi digelar di Pantai Mertasari, Sabtu (21/2), dalam rangkaian Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional. Kegiatan tersebut melibatkan anak-anak sekolah dasar (SD) Negeri 11 Sanur dan mendapat dukungan dari Bank Negara Indonesia.

Dikatakan, dalam setiap kegiatan, komunitasnya tak hanya mengumpulkan sampah, tetapi juga berupaya mengolah sampah residu hasil kegiatan mereka secara mandiri.

“Saran saya, karena ini persoalan kita bersama, harus diselesaikan serius dan konsisten. Masyarakat dibangun dan diedukasi. Pemerintah siapkan tempat pengolahan dan pengangkutan yang profesional. Kalau hulu-hilir nyambung, pasti selesai. Yang sekarang ini kan belum siap semua, akhirnya sampah ada di mana-mana,” pungkasnya. (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN