Pasien di RSUD Wangaya yang tengah melakukan cuci darah.(BP/istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Di tengah polemik Pemberian Bantuan Iuran (PBI) BPJS belakangan ini, banyak masyarakat yang bergantung pada fasilitas kesehatan tersebut. Seperti halnya masyarakat yang menjadi pasien cuci darah diharuskan cuci darah minimal 2 kali seminggu. Adanya bantuan BPJS memberi harapan bagi pasien ini untuk tetap hidup di tengah tingginya biaya kesehatan.

Salah satunya diakui pasien yang tengah melakukan cuci darah di RSUD Wangaya, Made Mawa Semara (60). Ia menjadi pasien cuci darah sejak 2023 lalu. Dalam seminggu pria asli Denpasar ini harus mencuci darah sebanyak dua kali. “Bersyukur diberikan BPJS, kalau tidak berapa biaya yang harus saya keluarkan,” katanya saat ditemui di RSUD Wangaya, Jumat (20/2).

Baca juga:  Periksa Makanan di 6 Pasar, Masih Ditemukan Kandungan Formalin

Dia mengaku menerima BPJS secara gratis yang menjadi salah satu penerima PBI. Disinggung sempat adanya penonaktifan PBI BPJS, Made Mawa mengaku telah mendengar berita tersebut.

“Sempat dengar berita itu. Saya suruh anak mengecek ke kantor desa, dibilang masih aktif,” jelasnya sembari mengatakan ada 3 anggota keluarga dalam KKnya yang ditanggung PBI BPJS.

Iapun mengaku sangat bersyukur dengan diberikannya bantuan BPJS tersebut. BPJS ini memberikannya kesempatan untuk tetap bisa cuci darah dan tetap melangsungkan hidup.

Baca juga:  Alami Tren Meningkat, Jumlah Pasien di RSD Wisma Atlet

Sementara itu, Kepala Unit Humas dan Promosi RSUD Wangaya, Bdn. anak Agung Ayu Dewi Purnami, SST mengatakan, sebelumnya sempat menerima 1 pasien yang kedapatan BPJSnya tidak aktif saat jadwal cuci darah. Atas rekomendasi dokter spesialis terkait, pasien tersebut kemudian bisa dimundurkan jadwal pada dua hari berikutnya sembari menunggu BPJS aktif kembali. “Untuk menolak pasien kita belum pernah lakukan. Bagi yang ada persoalan pada administrasi kami beri alternatif lain,” jelasnya.

Demikian pihaknya pun turut melakukan pengecekan kepada pasien-pasien lainnya setelah mendengar adanya penonaktifan BPJS dan hasilnya ada sebagian pasien yang memang BPJSnya tidak aktif. Pihaknya lalu berkoordinasi dengan dinas terkait seperti Dinas Sosial Kota Denpasar yang kemudian peserta BPJS tersebut kembali aktif.

Baca juga:  Korban Jiwa COVID-19 Bali Masih Tambah Belasan, Kasus Baru di Bawah 500 Orang

Disinggung terkait biaya cuci darah, Agung Purnami mengatakan, dalam sekali cuci darah biaya yang dibutuhkan sekitar Rp1,3 juta. Pasien biasanya menjalankan cuci darah 2 sampai 3 kali dalam seminggu. Di RSUD Wangaya sendiri ada 20 mesin cuci darah dengan 2 sift sehingga dalam sehari ada 40 pasien yang melakukan cuci darah. (Widiastuti/bisnisbali)

BAGIKAN