Sejumlah komponen masyarakat saat melakukan bersih/bersih sampah kiriman di pantai. (BP/dok) 

MANGUPURA, BALIPOST.com – Ribuan ton sampah kiriman Badung menepi di sepanjang pesisir Kabupaten Badung selama hampir empat bulan terakhir. Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Badung mencatat total sampah yang berhasil dibersihkan dari Pantai Petitenget hingga Pantai Jimbaran mencapai 3.000 ton.

Kabid Kebersihan dan Limbah B3 DLHK Kabupaten Badung, Anak Agung Gede Agung Dalem, mengungkapkan luasnya wilayah terdampak membuat pihaknya membagi penanganan ke dalam 10 zona kerja. “Ada 10 zona sampah kiriman menepi, mulai dari Pantai Petitenget sampai Jimbaran,” ungkap Kabid Kebersihan dan Limbah B3 DLHK Kabupaten Badung, Anak Agung Gede Agung Dalem, Jumat (20/2).

Baca juga:  Krisna dan Yudi Terpilih Jegeg Bagus Buleleng 2017

Tim DLHK tetap bersiaga di lapangan meski volume sampah yang menepi mulai menunjukkan tren penurunan. Kondisi ini terjadi seiring berakhirnya musim angin muson barat yang selama ini membawa material sampah ke pesisir Badung. “Laut sudah mulai bersahabat. Volume sampah yang dibersihkan mencapai 3.000 ton,” ujarnya.

Selama periode tersebut, DLHK Badung mengumpulkan berbagai jenis sampah, mulai dari batang kayu, ranting, hingga sampah plastik. Untuk mempercepat proses penanganan sampah kiriman Badung, DLHK mengerahkan 12 unit alat berat di sejumlah pantai strategis. Selain itu, sekitar 300 hingga 350 tenaga penyapuan diterjunkan secara rutin setiap hari. Jika kondisi memburuk, jumlah personel dapat ditambah hingga 800 orang.

Baca juga:  Pelayanan Kesehatan Tanpa Membedakan Status Sosial Pasien

“Begitu sampah terdampar, langsung kita kumpulkan dan angkut keluar dari pantai. Fokus kami agar timbunan tidak menumpuk dan mengganggu aktivitas pariwisata,” paparnya.

Ia menjelaskan, komposisi sampah kiriman yang menepi didominasi material organik berupa kayu sekitar 70 persen, sementara 30 persen lainnya merupakan sampah plastik. Sampah plastik yang memiliki nilai ekonomis dipilah dan disalurkan ke mitra pengolah. Adapun plastik campuran langsung dibawa ke tempat pembuangan akhir (TPA).

Baca juga:  Kapolda Bali Sebut KTT AIS Berjalan Lancar dan Aman

Sementara itu, kayu gelondongan yang terkumpul dipotong dan digerus menggunakan mesin wood chipper. Hasilnya berupa serbuk kayu yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan kompos maupun material urugan.

“Kami berupaya memastikan penanganan sampah kiriman Badung tetap menjadi prioritas, terutama demi menjaga kebersihan pantai dan mendukung keberlangsungan sektor pariwisata. Meski volume sampah mulai menurun, petugas tetap siaga mengantisipasi kemungkinan kiriman susulan hingga musim angin benar-benar berakhir,” pungkasnya. (Parwata/balipost)

 

BAGIKAN