
DENPASAR, BALIPOST.com – Jumlah pasien yang harus menjalani terapi cuci darah (hemodialisis) di Indonesia, termasuk Bali, terus menunjukkan tren peningkatan pada kelompok usia muda.
Kondisi ini mengindikasikan adanya pergeseran risiko penyakit ginjal ke usia yang lebih muda. Peningkatan ini diduga kuat berkaitan dengan pola hidup tidak sehat serta meningkatnya prevalensi dua penyakit, yakni diabetes dan hipertensi pada usia produktif.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Bali mencatat jumlah pasien yang menjalani terapi cuci darah sepanjang tahun 2024 mencapai 5.113 kasus, dan meningkat menjadi 5.336 kasus pada tahun 2025. Data layanan dialisis dari 36 rumah sakit di Bali menunjukkan fluktuasi jumlah pasien, dengan sejumlah rumah sakit mengalami kenaikan cukup signifikan pada 2025.
Berdasarkan rekapitulasi data pasien dialisis tahun 2024–2025, mayoritas pasien berada pada kelompok usia produktif hingga lanjut usia. Kelompok usia 46–55 tahun, 56–65 tahun, dan di atas 65 tahun menjadi penyumbang pasien terbanyak baik pada 2024 maupun 2025, khususnya di rumah sakit rujukan besar seperti RS Prof. Ngoerah Denpasar, RSUD Tabanan, RSUD Kabupaten Buleleng, dan RS Balimed Denpasar.
Namun demikian, kasus pasien cuci darah pada kelompok usia muda mulai terpantau. Kelompok usia 36–45 tahun menunjukkan angka yang cukup signifikan, disusul kelompok usia 26–35 tahun yang mulai muncul di sejumlah rumah sakit, meski jumlahnya masih lebih kecil dibandingkan kelompok usia di atasnya.
Tingginya kasus pada usia kerja juga dinilai berpotensi menimbulkan dampak sosial dan ekonomi bagi keluarga.
Sementara itu, pasien dialisis pada kelompok usia anak dan remaja (0–5 tahun, 5–11 tahun, dan 12–16 tahun) tercatat sangat minimal bahkan nihil di sebagian besar rumah sakit. Meski demikian, keberadaan kasus pada usia muda tetap menjadi peringatan penting akan perlunya deteksi dan pencegahan sejak dini.
Kadiskes Bali, dr. I Nyoman Gede Anom, menjelaskan bahwa penyakit ginjal yang berujung pada cuci darah umumnya tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan akibat akumulasi kebiasaan buruk dalam jangka panjang.
“Penyebabnya sangat kompleks. Yang paling sering adalah kadar gula darah tinggi, kolesterol tinggi, serta tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol,” ujarnya, Selasa (10/2).
Selain itu, konsumsi alkohol berlebihan juga menjadi faktor risiko serius. Kebiasaan minum alkohol hingga menyebabkan keracunan dapat mempercepat kerusakan fungsi ginjal. Dinkes Bali juga mengingatkan masyarakat untuk waspada terhadap penggunaan produk tertentu, terutama produk pemutih yang mengandung bahan berbahaya, karena berpotensi merusak ginjal dalam jangka panjang.
Dari sisi pola konsumsi, maraknya minuman manis dalam kemasan seperti kopi manis botolan, serta makanan cepat saji, dinilai turut berkontribusi terhadap meningkatnya risiko penyakit metabolik. Kondisi tersebut diperparah dengan kebiasaan kurang minum air putih.
“Minuman manis, makanan cepat saji, ditambah kurang minum air putih, semuanya saling berkaitan dan memperberat kerja ginjal,” jelas Parwati.
Sementara itu, Dosen Dokter Spesialis Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Warmadewa (FKIK Unwar), dr. Putu Saraswati Laksmi Dewi, Sp.PD., menegaskan bahwa diabetes melitus dan hipertensi merupakan penyebab utama pasien harus menjalani cuci darah.
“Sekitar 40 hingga 50 persen pasien cuci darah disebabkan oleh komplikasi diabetes melitus. Hipertensi yang tidak terkontrol dalam jangka panjang juga merusak pembuluh darah ginjal,” jelasnya saat diwawancara, Selasa (10/2).
Menurut dr. Saraswati, gagal ginjal stadium akhir terjadi melalui proses bertahun-tahun akibat penyakit kronis yang tidak terdeteksi atau tidak ditangani dengan baik. Selain diabetes dan hipertensi, penyebab lain meliputi penyakit ginjal kronis, peradangan ginjal, penyakit ginjal genetik, infeksi ginjal berulang, lupus nefritis, hingga penggunaan obat-obatan yang bersifat nefrotoksik tanpa pengawasan medis.
Ia menambahkan, peningkatan kasus pada kelompok usia 30–50 tahun, bahkan 30–40 tahun, menjadi alarm serius karena banyak dipicu gaya hidup tidak sehat, obesitas, dan diabetes tipe 2 yang tidak terkontrol.
“Pencegahan adalah kunci utama. Kendalikan gula darah dan tekanan darah, terapkan pola makan sehat, olahraga teratur, cukup minum air putih, dan lakukan pemeriksaan fungsi ginjal secara berkala, terutama bagi yang berisiko,” tegasnya.
Dengan tren peningkatan pasien cuci darah, khususnya pada usia produktif, upaya promotif dan preventif dinilai menjadi langkah mendesak untuk menekan angka penyakit ginjal kronis di Bali ke depan. (Ketut Winata/balipost)










