Buruh tani sedang merontokkan padi di lahan pertanian Canggu, Badung. (BP/eka)

DENPASAR, BALIPOST.com – Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distan Pangan) Provinsi Bali membantah data Badan Pusat Statistik (BPS) Bali yang menyebutkan produksi padi di Bali sepanjang tahun 2025 mengalami penurunan. Pemerintah daerah menegaskan, berdasarkan pendataan internal, produksi padi justru menunjukkan tren peningkatan.

Kepala Distan Pangan Bali, Wayan Sunada, menegaskan tidak terjadi penurunan produksi padi seperti yang dirilis BPS. Menurutnya, data yang dimiliki Pemerintah Provinsi Bali menunjukkan capaian produksi yang lebih tinggi. “Tidak ada menurun. Kalau melihat data kami, justru produksinya naik,” ujar Sunada, Rabu (4/2).

Sunada memaparkan, sepanjang 2025 Pemprov Bali mencatat total produksi padi mencapai 753.587,45 ton dengan produksi beras sebesar 471.821,103 ton. Angka ini berbeda cukup signifikan dengan data BPS Bali yang mencatat produksi padi 587,87 ribu ton atau turun 47,61 ribu ton (7,49 persen) dibandingkan tahun 2024.

Baca juga:  Pascakecelakaan KA di Bandung, KNKT Kumpulkan Data Hingga Keterangan Saksi

Perbedaan data juga terjadi pada angka produksi beras. BPS Bali menyebutkan produksi beras sepanjang 2025 sebesar 331,53 ribu ton, turun 26,65 ribu ton atau 7,49 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Selain produksi, perbedaan juga terlihat pada data luas panen padi. BPS Bali mencatat luas panen padi sepanjang 2025 sebesar 96,44 ribu hektare, menurun 7,09 persen dibandingkan 2024. Sementara itu, data pemerintah daerah mencatat luas tanam padi mencapai 125 ribu hektare dengan realisasi panen sebesar 121,881 ribu hektare.

Baca juga:  Pemerintah Siapkan Data Penerima Bantuan Sosial di Bulan Ramadhan

“Memang benar lahan pertanian kita menurun dan permintaan pangan meningkat seiring pertumbuhan penduduk dari 4,2 juta menjadi 4,4 juta jiwa. Namun produksi tidak menurun, ini terlihat dari luas tanam 125 ribu hektare yang hampir seluruhnya terealisasi panen,” jelas Sunada.

Ia mengakui luas panen tersebut tergolong terbatas, namun Distan Pangan Bali telah melakukan berbagai inovasi untuk meningkatkan produktivitas. Salah satunya melalui peningkatan indeks pertanaman (IP), dari sebelumnya IP 100 menjadi IP 200 bahkan IP 300.

Pada lahan dengan irigasi teknis, petani Bali kini mampu menanam padi hingga tiga kali dalam setahun, dari sebelumnya hanya satu hingga dua kali. Sementara pada lahan sawah tadah hujan, frekuensi tanam meningkat dari satu kali menjadi dua kali setahun.

Baca juga:  Tukang Kebun Terekam CCTV Saat Bobol Villa

Selain itu, pengembangan pertanian organik yang terus digencarkan dinilai turut mendukung peningkatan produktivitas sekaligus memperkuat aspek keamanan pangan di Bali. “Semua upaya itu sudah kami lakukan. Tahun ini kita masih surplus sekitar 65 ribu ton untuk komoditas pangan strategis,” tegasnya.

Berdasarkan data Pemprov Bali, produksi padi tertinggi sepanjang 2025 tercatat di Kabupaten Tabanan dengan total 200.946,676 ton, sedangkan produksi terendah berada di Kabupaten Bangli sebesar 18.911,572 ton. (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN