
DENPASAR, BALIPOST.com – Bank BPD Bali menegaskan komitmennya untuk terus menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi Bali pada 2026. Dengan target pertumbuhan kredit sebesar 9 persen, bank milik krama Bali ini optimistis dapat memperkuat pembiayaan sektor produktif, UMKM, hingga program pemerintah daerah di tahun ini.
Direktur Utama BPD Bali, I Nyoman Sudharma di Denpasar menjelaskan, target pertumbuhan kredit tersebut disokong oleh penguatan kredit program yang menyasar sektor-sektor strategis. Dari total target pertumbuhan kredit 9 persen, sekitar Rp2,096 triliun ditargetkan berasal dari kredit program sepanjang 2026.
“Kredit program ini mencakup Kredit Usaha Rakyat (KUR), kredit perumahan, kredit alat dan mesin pertanian (alsintan), serta kredit untuk industri padat karya. Ini menjadi tulang punggung pembiayaan BPD Bali dalam mendorong ekonomi daerah,” ujarnya Jumat (30/1).
Selain kredit program, BPD Bali juga mengandalkan pertumbuhan dari segmen kredit konsumer dan komersial. Salah satu penopang utama berasal dari pembiayaan pengadaan barang dan jasa pemerintah, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota, khususnya bagi kontraktor yang mengerjakan proyek pemerintah daerah.
“Masih ada ruang besar dari pembiayaan proyek pemerintah daerah, termasuk kontraktor yang mendapatkan pekerjaan di provinsi maupun kabupaten/kota. Ini menjadi salah satu pendorong pertumbuhan kredit kami,” jelas Sudharma.
Tak hanya itu, bank BUMD asli Bali ini juga mendorong graduasi debitur KUR ke segmen pembiayaan yang lebih besar. Debitur UMKM yang usahanya berkembang diarahkan naik kelas ke kredit di luar KUR dengan skema pembiayaan yang tetap kompetitif.
“Graduasi KUR kami dorong agar UMKM yang sudah berkembang bisa mendapatkan pembiayaan yang lebih besar, dengan benefit dan suku bunga yang tetap bersaing. Harapannya, daya dorong UMKM terhadap perekonomian Bali semakin kuat,” katanya.
Dari sisi penetrasi pasar, BPD Bali melihat potensi pertumbuhan yang masih signifikan, termasuk pada sektor kesehatan (medical) dan sektor komersial lainnya, seiring meningkatnya kebutuhan pembiayaan di Bali.
Nyoman Sudharma menyampaikan optimisme bahwa langkah perbankan, termasuk ekspansi kredit yang dilakukan BPD Bali, dapat menopang pertumbuhan ekonomi Bali pada 2026, khususnya pada triwulan pertama.
“Kami masih optimis ekonomi Bali di triwulan pertama 2026 bisa tumbuh, sepanjang tidak ada kejadian eksternal yang signifikan yang mengganggu, terutama industri pariwisata,” ujarnya.
Menurutnya, pengalaman pada 2025 menunjukkan ekonomi Bali mampu bergerak positif dengan dukungan sektor pariwisata, konsumsi domestik, serta peran aktif perbankan dalam menyalurkan kredit produktif.
“Tentu kita tetap harus mencermati faktor-faktor eksternal lainnya. Namun dengan strategi pembiayaan yang tepat dan fokus ke sektor produktif, kami yakin ekonomi Bali 2026 bisa bergerak lebih baik,” paparnya.
Sementara itu dari kacamata pengamat ekonomi, Prof. IB. Raka Suardana menyebutkan, dari publikasi yang termuat, pada awal 2026, kinerja sektor perbankan di Bali menunjukkan pertumbuhan kredit sekitar 7–9 % (yoy), lebih rendah dibanding pertumbuhan 2024–2025.
Kredit konsumsi tumbuh paling tinggi, berkisar 9–10 persen, sementara kredit modal kerja sekitar 6 % dan kredit investasi 5–6 %. Rasio kredit bermasalah (NPL) tetap terjaga di kisaran 2,5–3 %, dengan loan to deposit ratio (LDR) relatif stabil sekitar 80–85 %.
Guru Besar FEB Undiknas Denpasar ini menaruh optimisme pertumbuhan ekonomi lebih banyak ditopang oleh pergerakan sektor riil swasta, khususnya pariwisata, perdagangan, dan UMKM, dibandingkan ekspansi kredit yang agresif. “Triwulan I 2026 diperkirakan tumbuh moderat di kisaran 4,8–5,2 %, karena belanja pemerintah belum optimal menggerakkan sektor riil,” jelasnya. (Suardika/balipost)










