Ayunan setinggi belasan meter saat pelaksanaan upacara Ngusaba Sambah di Desa Adat Subaya, Kintamani (BP/istimewa)

BANGLI, BALIPOST.com – Masyarakat Desa Adat Subaya, Kintamani belum lama ini kembali menggelar upacara Ngusaba Sambah. Upacara yang rutin dilaksanakan setiap sasih kepitu di Pura Bale Agung desa adat setempat ini menarik, karena dalam upacara ini menghadirkan ayunan bambu setinggi belasan meter.

Bendesa Adat Subaya, Putu Sarjana, menjelaskan ayunan tersebut merupakan piranti upakara yang wajib ada dalam pelaksanaan upacara Ngusaba Sambah. Ayunan setinggi 12 hingga 14 meter ini dibangun menggunakan material alami berupa bambu dan rotan. Total 58 batang bambu digunakan, dengan 12 batang sebagai tiang utama dan sisanya sebagai penguat serta pengikat dari rotan.

Baca juga:  Perajin Kini Tak Bergantung Naik Turunnya Pariwisata, Pangsa Pasarnya Mengarah ke Sektor Ini

Ayunan tersebut didirikan di areal Penataran Bale Agung, tepatnya di bagian Utamaning Madya Mandala. Di bagian puncak ayunan terdapat sanggah sebagai stana Pelinggih Ratu Ayu Mas Subandar dan tempat meletakkan piranti upakara.

Rangkaian upacara Ngusaba Sambah, kata Putu Sarjana berlangsung tiga hari dimulai dengan prosesi Mendak Ida Bhatara dan diakhiri dengan Nyineb. Berdasarkan aturan adat, terdapat batasan penggunaan ayunan tersebut. Masyarakat baru diperbolehkan menaiki ayunan secara bergiliran setelah seluruh rangkaian upacara selesai dan piranti suci diturunkan.

Baca juga:  Prajuru Desa Adat Selat Undur Upacara Mecaru

Bagi warga luar desa yang datang bersembahyang namun tidak sempat menaiki ayunan, mereka biasanya cukup menyentuh ayunan bambu tersebut sebagai simbol keikutsertaan dalam upacara tersebut sekaligus memohon keselamatan. “Menurut kepercayaan walaupun tidak dapat menaiki ayunan, cukup dapat menyentuh saja tidak apa-apa,” jelasnya.

Sesuai tradisi, ayunan ini hanya akan berdiri singkat. Tiga hari setelah puncak upacara, ayunan bambu tersebut akan segera dibongkar. Putu Sarjana menambahkan ayunan ini biasanya menarik perhatian fotografer dan awak media yang ingin mengabadikan warisan budaya masyarakat Desa Adat Subaya ini mulai dari proses pendirian ayunan. “Mungkin karena cuaca akhir-akhir ini kurang bersahabat, jadi tidak banyak yang datang,” pungkasnya. (Dayu Swasrina/balipost)

Baca juga:  Penanaman Buah Lokal Harus Digencarkan
BAGIKAN