Almarhum Ketut Sutama (BP/istimewa)

SINGASANA, BALIPOST.com – Upacara pengabenan almarhum Ketut Sutama dijadwalkan berlangsung pada 5 Maret 2026, setelah pihak keluarga menyepakati hari baik. Tokoh adat sekaligus Wakil Ketua PAC PDI Perjuangan Kecamatan Kediri itu meninggal usai sempat pingsan saat mengikuti rapat di Kahyangan Puseh Desa Adat Bedha, Minggu (22/2) siang.

Almarhum yang juga menjabat Kelian Adat Banjar Bengkel Kawan, Desa Bengkel, Kecamatan Kediri, awalnya mengikuti rapat LPD dan sempat menyampaikan pendapat. Namun tak lama kemudian ia duduk dan tiba-tiba kehilangan kesadaran. Warga yang berada di lokasi langsung mengevakuasi dan membawanya ke Rumah Sakit Wisma Prashanti namun meninggal dalam perjalanan menuju rumah sakit.

Baca juga:  Penuhi Kebutuhan Pengungsi Banjir Pengambengan, Dapur Umum Didirikan

Ketua Fraksi PDIP Tabanan, I Putu Eka Putra Nurcahyadi mengaku sangat kehilangan sosok almarhum yang dikenalnya sebagai salah satu kader militan di PDI Perjuangan. Almarhum sendiri dikenal aktif memperjuangkan aspirasi masyarakatnya sebagai kelian adat banjar Bengkel Kawan, Ketua BPD Desa Bengkel dan Kertha Desa di desa adat Bedha. Semasa hidupnya, Ketut Sutama dikenal sebagai kader yang aktif dan berdedikasi. Ia pernah menjabat Sekretaris PAC PDIP Kediri sebelum dipercaya sebagai Wakil Ketua PAC.

Baca juga:  PDIP dan Demokrat Bangli Bertemu

Salah satu gagasan almarhum yang menarik yakni membuat festival layang layang di Tabanan dan membentuk pelangi bali untuk Tabanan (pengurus layang layang,red). “Dia ini (almarhum) dikenal sebagai pecinta layang layang, dia buat festival layang layang di Tabanan yang pesertanya kadang cukup banyak juga,”ucapnya, Rabu (25/2).

Eka Nurcahyadi juga mengatakan, almarhum memang memiliki riwayat penyempitan pembuluh jantung dan rutin menjalani pengobatan.

Baca juga:  Diguyur Hujan Deras, Bangunan Dapur dan Kamar Mandi Warga Tegalinggah Jebol

Terpisah Perbekel Bengkel, I Nyoman Wahya Biantara, menyebut almarhum sebagai sosok vokal dalam menyampaikan aspirasi masyarakat. “Beliau memang punya riwayat penyakit jantung dan rutin berobat,”ujarnya.

Ketut Sutama meninggalkan seorang istri dan satu putri yang kini bekerja di Amerika Serikat. Kepergiannya menjadi kehilangan besar bagi keluarga, masyarakat Desa Bengkel, serta jajaran kader PDIP di Kecamatan Kediri. (Puspawati/balipost)

BAGIKAN