
MAKASSAR, BALIPOST.com – Tim Disaster Victim Identification (DVI) berhasil mengidentifikasi seluruh korban pesawat ATR 42-500 yang mengalami kecelakaan di wilayah pegunungan Bulusaraung, Kabupateh Pangkep, Sulawesi Selatan (Sulsel).
“Telah teridentifikasi seluruh korban sebanyak 10 orang, terdiri atas tujuh kru dan tiga penumpang,” ujar Kapolda Sulsel Irjen Pol Djuhandhani Rahardjo Puro di Makassar, Sabtu (24/1), dikutip dari Kantor Berita Antara.
Kapolda menyebutkan dari total 11 kantong yang diterima tim DVI dari tim SAR setelah evakuasi dari pegunungan tersebut, berdasarkan identifikasi tim DVI ditemukan kecocokan identitas 10 orang sesuai dengan manifest.
“Dapat kami sampaikan, dari 11 body pack (kantong) yang dikirim kemarin, 10 pack sudah teridentifikasi. Body masih terbaca, bisa diidentifikasi. Satu pack lagi, berisi tulang. Ini bisa juga dibuktikan itu adalah bagian tubuh dari salah satu korban,” ujarnya.
Proses identifikasi tersebut, setelah tim DVI menerima body pack korban pada Jumat (23/1). Selanjutnya, tim langsung melaksanakan tes dan pemeriksaan tujuh pack tersebut. Dari 10 korban yang diidentifikasi sesuai dengan manifest serta identik dengan nama-nama korban.
Kepala Biddokes Polda Sulsel Komisaris Besar Muh Haris menyebutkan tujuh kantong yang diserahkan Basarnas telah terungkap identitasnya setelah dilakukan pemeriksaan lanjutan.
“Pemeriksaan melalui sidik jari data gigi, properti, dan ciri medis, (sesuai post mortem, antre mortem),” ujarnya.
Ia menyebutkan kode Post Mortem (PM) 62.B.05 cocok dengan Ante Mortem (AM) 008, kantong kelima adalah Yoga Nouval Prakoso (penumpang) pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) selaku operator foto udara. Alamat, Jalan Tutul Raya Nomor 264, Pondok Bambu, Duren Sawit, Jakarta Timur.
Kantong nomor PM 62.B.08 cocok dengan nomor AM 007 teridentifikasi Ferry Irawan usia 41 tahun sebagai pegawai KKP (penumpang), alamat Jalan Rawameneng Nomor 43 RT 04 RW 05, Desa Janti, Kecamatan Pondok Melati, Bekasi, Jawa Barat.
Kantong nomor PM 62.B.07 cocok dengan nomor AM 001 teridentifikasi Muhammad Parhan Gunawan usia 26 tahun, beralamat di Jalan Sultan Hasanuddin, Kecamatan Malili, Luwu Timur, Sulawesi Selatan, selaku Co-Pilot pesawat ATR 42-500.
Kantong nomor PM 62.B.06 dan PM 62.B.03 Body Part atau bagian tubuh cocok dengan AM 003 teridentifikasi sebagai Hariadi usai 57 tahun, alamat Perumahan Puri Kahuripan 3 Nomor 4, RT.003, RW.008 Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, selaku kru pesawat.
Kantong PM 62.B.09 cocok dengan nomor AM 005, teridentifikasi Dwi Murdiono usia 40 tahun, alamat Jalan Rajasari Perum Puri, Indrakita Blok B.5, Sasak Panjang, Bogor, Jawa Barat, selaku kru pesawat.
Kantong nomor PM 62.B.10A dan PM 62.B.10B berupa Body Part atau bagian tubuh, dan PM 62.B.05 properti cocok dengan AM 009 teridentifikasi Restu Adi Pribadi usia 40 tahun. Alamat Jalan Tanjakan Kampung Baru, Kecamatan Kampung Makassar, Halim Perdana Kusuma, juga kru pesawat.
Kantong nomor PM 62.B.11 cocok dengan nomor AM 010, teridentifikasi Andi Dahananto usai 58 tahun, alamat Perumahan Tigaraksa, Desa Marga Sari Blok A1/36, Tangerang, Banten, diketahui merupakan pilot pesawat ATR 42-500.
“Dengan demikian, tim gabungan DVI telah mengidentifikasi 10 korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 dan diserahkan kepada pihak keluarga,” papar Haris kepada wartawan.
Sebelumnya, tiga jenazah telah diambil pihak keluarga, masing-masing Florencia, Deden, dan Esther.
Kepala Pusat Identifikasi Pusdokkes Polri Brigadir Jenderal Mashudi mengungkapkan identitas tujuh korban pesawat ATR 42-500 berdasarkan sidik jari. “Dari tujuh kantong jenazah yang diterima, memang semuanya masih bisa teridentifikasi dengan sidik jari.” katanya. (kmb/balipost)










