Ilustrasi Koperasi Merah Putih. (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Penguatan koperasi dinilai menjadi strategi kunci untuk memperkuat rantai pasok usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Bali sekaligus mengurangi ketergantungan ekonomi daerah terhadap sektor pariwisata.

Pemerhati ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana (FEB Unud), Dr. Putu Krisna Adwitya Sanjaya, S.E., M. Si., menilai koperasi memiliki peran sentral dalam mendorong diversifikasi ekonomi Bali.

Krisna menilai koperasi dapat menjadi instrumen penting dalam membangun struktur ekonomi Bali yang lebih seimbang dan berkelanjutan. Menurutnya, selama ini UMKM Bali terlalu terkonsentrasi pada rantai nilai pariwisata sehingga rentan terhadap guncangan eksternal.

“Koperasi memungkinkan UMKM masuk ke sektor produktif berbasis kebutuhan dasar, seperti pangan dan industri pengolahan. Ini akan memperkuat fondasi ekonomi Bali agar tidak mudah terguncang saat pariwisata melemah,” jelasnya Kamis (22/1).

Baca juga:  Tingkatkan "Onboarding" Digital, Kamus Target Seratus Ribu Usaha UMKM

Krisna juga menekankan pentingnya dukungan kebijakan yang konsisten dan terintegrasi. Menurutnya, penguatan koperasi tidak cukup hanya melalui pembentukan unit usaha, tetapi harus diikuti dengan peningkatan kapasitas manajemen, akses pembiayaan murah, serta dukungan digitalisasi.

“Tanpa tata kelola yang profesional dan adopsi teknologi, koperasi sulit berkembang. Pemerintah harus memastikan koperasi menjadi bagian dari rantai nilai pembangunan daerah, bukan sekadar pelengkap program,” tegasnya.

Pemerhati ekonomi dari Sekolah Tinggi Bisnis (STB) Runata, Dr. Luh Kadek Budi Martini di Denpasar menyatakan koperasi berperan strategis dalam mengonsolidasikan produksi UMKM, menjaga kontinuitas pasokan, serta menekan biaya distribusi. Melalui koperasi, UMKM dinilai lebih mudah mengakses pasar modern, e-commerce, hingga pengadaan barang dan jasa pemerintah.

Baca juga:  Koperasi Merah Putih, Baru Satu yang Bersedia di Tabanan

“Koperasi dapat berfungsi sebagai agregator produk lokal sehingga posisi tawar UMKM menjadi lebih kuat dan tidak lagi bergantung pada tengkulak atau perantara yang merugikan,” ujar Kadek Budi.

Ia menambahkan, penguatan koperasi juga berpotensi mengurangi ketergantungan UMKM Bali pada sektor pariwisata. Dengan mendorong pengembangan sektor pertanian, pangan olahan, kerajinan, dan ekonomi kreatif berbasis kebutuhan domestik maupun ekspor, UMKM dinilai tidak lagi sepenuhnya bergantung pada kunjungan wisatawan.

Kadek Budi menyoroti dampak langsung penguatan koperasi terhadap kesejahteraan petani dan peternak di Bali. Ia menyebut koperasi mampu menekan biaya produksi, memperbaiki akses pembiayaan, serta menjamin penyerapan hasil dengan harga yang lebih adil.

Baca juga:  18 Mei 2019, Penurunan Harga Tiket Penerbangan Berlaku

“Selain meningkatkan pendapatan, koperasi juga memperkuat posisi tawar dan solidaritas sosial anggota, sehingga petani dan peternak tidak lagi berada pada posisi lemah dalam sistem pasar,” ujarnya.

Ia pun menilai keberhasilan koperasi ke depan tidak lagi diukur dari jumlah koperasi aktif semata. Indikator utama harus bergeser pada kinerja usaha, kontribusi terhadap PDRB lokal, peningkatan pendapatan anggota, serta perluasan lapangan kerja.

“Keberhasilan sejati koperasi terlihat dari dampaknya terhadap kesejahteraan masyarakat Bali dan kemampuannya terintegrasi dalam rantai pasok regional maupun nasional,” paparnya. (Suardika/balipost)

BAGIKAN