Sejumlah wisatawan datang ke Bali melalui Bandara I Gusti Ngurah Rai. (BP/istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Konflik yang terjadi antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran memberi dampak bagi pariwisata Bali. Terlebih serangan AS ke Iran yang secara tiba-tiba pada Sabtu (28/2), telah membuat sejumlah wisatawan tidak bisa kembali ke negara asalnya.

Bali sebagai destinasi wisata dunia pun juga terhambat dengan berhentinya aktivitas beberapa penerbangan yang melintasi Timur Tengah.

Hal tersebut dikatakan oleh Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata (Asita) Bali, I Putu Winastra, Senin (2/3). Dia mengatakan, gejolak dunia ini kembali mengagetkan sektor pariwisata Bali. Terlebih kondisi di lapangan saat ini sudah terjadi pembatalan penerbangan.

“Demikian pula informasi yang kita dapatkan sekarang bahwa di airport terjadi penumpukan penumpang. Yang semestinya mereka harus meninggalkan Bali, tetapi mereka tidak bisa karena pesawatnya tidak ada,” katanya.

Baca juga:  Rano Karno Pelajari Kepariwisataan Bali Untuk Jakarta

Jika konflik tiga negara ini terus berlanjut, menurutnya, dampak pada pariwisata Bali akan cukup besar. Akan terjadi pembatalan ataupun penundaan bagi wisatawan datang ke Bali. Terlebih adanya penghentian penerbangan yang dilakukan sejumlah maskapai terutama yang melewati Timur Tengah.

Selama ini, kata Winastra, Eropa yang menjadi pasar cukup besar bagi Bali kebanyakan datang melalui Timur Tengah. Hal ini tentu akan berpengaruh bagi kunjungannya ke Bali. Disamping itu, konflik yang memanas antara tiga negara ini tentu membuat banyak wisatawan menunda perjalanannya karena mereka lebih memikirkan keamanan masing-masing.

Baca juga:  Begini Hasil Rapid Test Ratusan Pedagang dan Pegawai Pasar Galiran

Untuk mengalihkan pasar wisatawan dengan menyasar negara lainnya, Winastra mengatakan, bukan hal yang mudah dilakukan. Membutuhkan waktu yang lama dan strategi untuk menyasar negara-negara lainnya.

Winastra mengatakan, Asita bersama stakeholder lainnya, baik itu PHRI, HPI, IHGMA hingga BTB, akan berkoordinasi berupaya mencari solusi dalam kondisi ini. Pertama, bagi wisatawan yang masih belum bisa kembali ke negaranya, diberi kemudahan misalnya bisa menambah penginapan di hotel masing-masing dengan harga khusus dan sebagainya.

Di samping itu, akan tetap memberikan informasi yang terbaru terkait perkembangan di bandara.

Kemudian, wisatawan yang telah berencana datang ke Bali namun masih belum bisa melakukan penerbangan, akan dikomunikasikan dengan PHRI untuk memberikan kebijaksanaan.

Baca juga:  Iran: Serangan AS Tak akan Dibiarkan Begitu Saja

“Misalnya ketika mereka tidak datang, deposit yang mereka bayarkan bisa disimpan dulu atau nanti bisa dipakai untuk deposit ketika mereka datang kemudian hari sehingga mereka tidak kena cancellation,” ujar Winastra.

Di sisi lain, pihaknya juga berharap pemerintah bisa mengkomunikasikan dengan maskapai memperbanyak rute ke Indonesia tanpa melalui Timur Tengah. Meski jarak tempuh lebih panjang, namun tetap bisa sampai dengan selamat.

Disinggung terkait pembatalan yang diajukan wisatawan, Winastra mengaku masih menghimpun informasi. “Karena serangan terjadi Sabtu dan ini baru Senin, masih banyak kantor-kantor yang libur. Tapi saya yakin satu minggu ke depan ini pasti akan banyak informasi update,” imbuhnya. (Widiastuti/balipost)

BAGIKAN