Sejumlah petani di Desa Baturinggit mulai menghentikan proses pembuatan garam. Hal itu dilakukan mengingat saat ini di wilayah setempat mulai turun hujan. (BP/nan)

AMLAPURA, BALIPOST.com – Sejumlah petani di Desa Baturinggit mulai menghentikan proses pembuatan atau produksi garam. Hal itu dilakukan mengingat saat ini di wilayah setempat sudah sering turun hujan.

Perbekel Baturinggit, I Gede Putu Telantik mengungkapkan, saat ini petani garam sudah tidak membuat garam mengingat sudah memasuki musim penghujan. “Sekarang sudah sering turun hujan sehingga petani sudah menghentikan produksi garam,” ucap Telantik.

Baca juga:  Dua Faktor Ini, Sebabkan Luas Tanam Padi di Bali Tak Terpenuhi

Telantik mengatakan, proses pembuatan garam yang dilakukan petani garam ketika musim kemarau yakni dari bulan Juni sampai November. Setelah itu, sampai Mei tidak lagi membuat garam. “Waktu membuat garam hanya enam bulan saja saat musim panas dan sekarang ini sudah tidak,” katanya.

Menurut Telantik, mengingat para petani sudah tidak lagi membuat garam, saat ini mereka sedang membersihkan atau merapikan alat-alat atau perlengkapan yang dipakai untuk membuat garam. “Alat yang mereka pakai sedang dirapikan untuk ditaruh atau disimpan agar tidak rusak karena tak dipakai lagi,” jelasnya.

Baca juga:  Alat Peraga Sosialisasi dan Kampanye Melanggar Ketentuan Mulai Diturunkan

Saat ini stok garam yang dimiliki petani masih cukup banyak. Untuk penjualan, hasil produksinya masih di jual di pasar-pasar tradisional yang ada di wilayah Kabupaten Karangasem secara mandiri atau individu-individu.

“Ke depan kita sedang pikirkan untuk kemasannya. Sehingga nantinya kemasan garam Baturinggit lebih profesional, dengan begitu nantinya penjualan tidak hanya menyasar pasar tradisional saja, tapi bisa merambah ke pasar modern,” imbuh Telantik. (Eka Parananda/balipost)

Baca juga:  Teten Masduki Harapkan Petani Kopi Kintamani Gunakan Pola Diversifikasi
BAGIKAN