Euforia tradisi Mekotek di Desa Adat Munggu, Kecamatan Mengwi, kembali digelar, pada Sabtu (29/11). (BP/istimewa)

MANGUPURA, BALIPOST.com – Tradisi Mekotek di Desa Adat Munggu, Kecamatan Mengwi, kembali digelar, pada Sabtu (29/11), dengan suasana meriah. Namun, euforia enam bulan lalu tidak lagi terlihat, terutama ketika para yowana biasanya berebut menaiki kayu pulet yang tersusun berbentuk piramid.

Tahun ini, tak satu pun peserta mencoba memanjat kayu pulet tersebut. Meski demikian antusiasme krama dari 12 banjar tetap tinggi mengikuti tradisi ini rutin digelar setiap 210 hari atau pada Sabtu Kliwon Kuningan.

Baca juga:  Tradisi Kupatan Sapi di Tuban

Bendesa Adat Munggu, I Made Suwinda, saat dikonfirmasi Minggu (30/11), menjelaskan bahwa secara umum tradisi yang digelar setiap Hari Raya Kuningan ini masih berlangsung seperti sebelumnya dan tetap diikuti seluruh krama. Namun, ada aturan baru yang kini diterapkan demi keselamatan bersama.

Menurutnya, larangan bagi warga untuk menaiki kayu pulet diterapkan setelah sebelumnya terjadi insiden yang menyebabkan beberapa peserta mengalami luka. Kejadian tersebut membuat pihak desa mengambil langkah tegas.

“Dari segi sejarah itu tidak ada gunanya, memang kami larang sekarang agar tidak mencedrai tradisi mekotek tersebut,” terangnya.

Baca juga:  MK Putuskan Anggota DPD Dilarang Jadi Pengurus Parpol

Mekotek sendiri merupakan tradisi turun-temurun yang dipercaya sebagai upaya menolak bala. Tradisi ini bermula dari perayaan kemenangan Kerajaan Mengwi dalam perang di Blambangan. Ratusan kayu pulet disatukan dan diangkat tinggi oleh warga sebagai simbol kekuatan dan kebersamaan.

Meski larangan diberlakukan, antusiasme masyarakat untuk mengikuti tradisi tetap tidak terbendung. Warga dari berbagai banjar tampak semangat membawa kayu pulet, mengenakan busana adat, dan mengikuti iringan dari jaba pura hingga ke titik-titik penting desa. Suasana penuh energi inilah yang membuat Mekotek tetap menjadi daya tarik budaya setiap enam bulan sekali.

Baca juga:  Soal Tali Lift Putus di Ayuterra Resort, APPLE Angkat Bicara

Walaupun aturan baru diterapkan, esensi tradisi tetap terjaga. Fokusnya kini kembali pada makna spiritual Mekotek sebagai bentuk syukur dan memohon keselamatan bagi seluruh krama. Pihak desa berharap, dengan diterapkannya larangan tersebut, pelaksanaan Mekotek ke depan akan semakin tertib, aman, dan tetap mempertahankan nilai-nilai sakral yang diwariskan leluhur. (Parwata/balipost)

 

BAGIKAN