Ilustrasi babi mati. (BP/dok)

BANGLI, BALIPOST.com – Kasus kematian babi di Kabupaten Bangli masih terus terjadi. Namun sampai sekarang penyebab kematian babi belum diketahui secara pasti. Pihak Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (PKP) Kabupaten Bangli mengaku belum menerima hasil uji laboratorium sampel babi mati yang telah dikirim ke BB Vet lebih dari sebulan lalu alias masih misterius.

Kepala Dinas PKP Kabupaten Bangli I Wayan Sarma Minggu (26/4) menyebutkan sejak Desember tercatat kasus kematian babi di Bangli mencapai 249 ekor. Sampai sekarang kasus kematian babi diakuinya masih terus terjadi. Belum lama ini kasus kematian babi terjadi di wilayah Desa Kayubihi dan di Banjar Tegal, Kelurahan Bebalang. Tidak semua babi yang mati menunjukan gejala sama dan mengarah ASF (African Swine Fever). “Ada juga babi yang mati alami seperti karena melahirkan. Semua itu kami catat setiap ada laporan,” terangnya.

Menindaklanjuti adanya laporan kasus kematian babi, pihaknya mengaku hanya mendata serta memberikan edukasi kepada peternak dan memberikan desinfektan untuk sterilisasi kandang. Pihaknya saat ini tidak lagi melakukan pengambilan sampel terhadap babi yang dilaporkan mati. Sebab sampel babi mati yang telah dikirim Dinas PKP Bangli ke BB Vet Denpasar untuk diuji lab sampai sekarang belum dikirimkan hasilnya. “Kami kesulitan untuk menjawab ketika ditanya apa penyebab kematian babi selama ini. Karena sampai sekarang hasil uji labnya belum disampaikan ke kami. BB Vet sudah koordinasi ke Provinsi. Sementara dari Provinsi belum ada memberikan kepastian ke kami,” jelasnya.

Baca juga:  Pura Agung Besakih Disemprot Disinfektan

Dikatakan Sarma sejak adanya kasus kematian babi yang dicurigai akibat terjangkit virus ASF, para peternak di Bangli kini cenderung mengurangi populasi. Banyaknya kasus kematian babi juga berimbas terhadap harga. Saat ini harga babi di tingkat peternak sangat rendah. Berdasarkan laporan yang diterimanya, kata Sarma, harga babi sekarang berkisar Rp 12 ribu- Rp 18 ribu per kilogram. Berbeda jauh saat masih normal sebelum adanya isu ASF. Harga babi saat itu bisa tembus Rp 38 ribu per kilogram. “Sekarang masyarakat ramai-ramai mepatung untuk menghabiskan stok,” imbuhnya.  (Dayu Rina/Balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.