Naker migran berada di Bandara Ngurah Rai. (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Mayoritas kasus positif COVID-19 di Bali memang datang dari para Pekerja Migran Indonesia (PMI). Tapi bukan berarti masyarakat lantas menstigmatisasi para PMI sebagai pembawa penyakit COVID-19.

Kepulangan mereka ke Bali juga tidak seharusnya mendapatkan penolakan dari masyarakat. “Ada kesan di masyarakat kita bahwa para PMI ini distigmatisasi sebagai orang pembawa penyakit. Tentu ini tidak baik dan juga tidak benar,” kata Ketua Harian Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Provinsi Bali, Dewa Made Indra dalam keterangan pers, Rabu (15/4).

Stigma itu tidak benar, lanjut Dewa Indra, karena para PMI tidak pernah tahu dimana mereka terinfeksi COVID-19. Sekda Provinsi Bali ini bahkan menyebut para PMI sebagai orang-orang yang taat dengan prosedur.

Sebelum pulang ke tanah air, mereka melakukan pemeriksaan kesehatan sehingga bisa mengantongi health certificate. Mereka juga melalui proses karantina terlebih dahulu di tempatnya bekerja sebelum dipulangkan.

Ketika tiba di bandara Ngurah Rai, para PMI kembali melakukan rapid test tanpa ada penolakan. “Mereka itu adalah saudara-saudara kita yang bekerja di luar negeri. Kemudian karena menghadapi persoalan ekonomi seperti ini, mereka pulang,” imbuhnya.

Baca juga:  Antisipasi Dampak Terburuk COVID-19, Pemkab Gianyar Siapkan Dana Segini

Dewa Indra menambahkan, para PMI yang diuji lab dan hasilnya positif bukan berarti mereka sengaja membawa COVID-19. Apalagi setelah itu, mereka mau mengikuti dengan baik ketika diarahkan ke tempat karantina ataupun dirawat di RS.

Oleh karena itu, pihaknya memohon kepada masyarakat Bali agar jangan memberikan stigma seolah-olah PMI adalah pembawa virus atau sebagai orang yang menakutkan. “Karena stigma seperti ini berdampak buruk di masyarakat. Jadi ada penolakan mereka pulang, bukan hanya kepada PMI-nya. Tapi juga kepada keluarganya bahkan desanya,” jelasnya.

Menurut Dewa Indra, ada pasar-pasar tertentu yang bertanya kepada pengunjung berasal dari desa mana. Kalau disebutkan nama desa yang ada kasus positif, pengunjung tersebut tidak diijinkan untuk berbelanja di pasar. Hal ini disebut tidak baik, meskipun masyarakat juga diminta untuk waspada. (Rindra Devita/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.