akomodasi
Ilustrasi. (BP/dok)

DENPASAR, BALIPOST.com – Bank adalah bagian yang tidak bisa terlepaskan dalam perekonomian. Pengamat ekonomi, Nyoman Sender, mengibaratkannya sebagai darah dalam tubuh, demikian lah bank bagi perekonomian.

Ia pun menilai meski dampak COVID-19 ini akan dirasakan industri perbankan, namun tidak akan separah industri lainnya. Pun dengan karyawannya, ia menilai jika COVID-19 terjadi hingga 6 bulan ke depan, bisa saja akan ada karyawan yang sebagian dirumahkan (unpaid leaved), tapi status belum di-PHK.

Baca juga:  Libur Panjang Imlek 2026, Bandara Ngurah Rai Diproyeksi Layani 438 Ribu Penumpang

“Paling cuma digilir atau ada shift-shift-an kerja atau seperti sekarang sudah ada karyawan yang work from home (WFH) terutama karyawan-karyawan di bagian pemasaran dan back office. Karyawan di bagian pelayanan nasabah mesti tetap masuk kantor dengan sistem giliran atau shift,” ujarnya.

Namun, jika wabah ini berlangsung lebih dari 6 bulan, menurutnya, bisa saja terjadi PHK terutama karyawan-karyawan yang kurang strategis bagi bank seperti pegawai kontrak dan sebagainya.

Baca juga:  Selain Andalkan Belanja Pemerintah, Perhotelan Diminta Perluas Pasar

Dijelaskannya, bank sangat diperlukan dalam kehidupan masyarakat. Bank bagaikan darah dalam kehidupan perekonomian. Jika ingin perekonomian tetap hidup, maka bank harus tetap beroperasi.

Dalam suasana apapun, termasuk saat pandemi COVID-19, bisnis bank akan tetap hidup, karena bank sangat diperlukan dalam perekonomian suatu bangsa. Ia pun tetap optimis bisnis bank tetap bertahan.

Terlebih, pemerintah bersama Bank Indonesia dan OJK telah melakukan upaya-upaya penyelamatan dan stabilitas sistem keuangan. Meskipun, ia mengakui akan ada beberapa bank yang menghadapi kesulitan. (Citta Maya/balipost)

Baca juga:  Kadek Heni Berlaga di "Islamic Solidarity Games"
BAGIKAN