Suasana di 57 Street, New York yang terkenal sebagai pusat perbelanjaan dan hiburan dunia nampak sepi pada Minggu (5/4). (BP/AFP)

PARIS, BALIPOST.com – Pandemi virus corona (COVID-19) masih terus “mengamuk” di seluruh dunia. Orang pertama yang meninggal akibat virus ini adalah seorang pria berumur 61 tahun dari Wuhan, Tiongkok pada 9 Januari 2020. Sekarang, tiga bulan kemudian, per April 10, lebih dari 100.000 orang telah meninggal digerogoti virus itu.

Dari catatan AFP, penyakit ini mewabah di Asia, kemudian Eropa pada Maret lalu, dan sekarang berada di Amerika Serikat, yang kini menjadi episentrum baru dari COVID-19. Wabah ini juga menyebabkam setengah dari manusia yang ada di dunia ini melakukan lockdown.

Meskipun penguncian wilayah di beberapa tempat sudah dengan ekstrem diterapkan, jumlah kematian harian terus meningkat di seluruh dunia. Dari jumlah kematian kurang dari 500 per hari di pertengahan Maret 2020, menjadi lebih dari 5.000 kematian pada awal April. Kini, jumlah kematian harian seluruh dunia akibat COVID-19 hampir mencapai 7.500 kasus.

Di delapan hari terakhir, lebih banyak kematian dilaporkan dibandingkan 84 hari sebelumnya. Secara keseluruhan, hampir sebanyak 100.859 kasus kematian dilaporkan akibat COVID-19 pada Jumat (10/4) pukul 19.00 waktu setempat, menurut perhitungan AFP yang merangkumnya dari sejumlah data resmi.

Sebanyak 1,6 juta kasus dilaporkan di 193 negara. Sementara yang sembuh dari COVID-19 ini mencapai 335.900 orang.

Benua Paling Terdampak

Dengan jumlah kematian hingga 70.270 kasus dari 857.882 kasus terinfeksi COVID-19, Eropa merupakan benua yang paling terdampak secara global karena pandemi ini.

Pada 22 Maret, sudah terjadi penurunan jumlah kasus kematian yang dilaporkan di benua itu, dengan angka di bawah 10.000 kasus.

Namun, penyebarannya meningkat dalam 11 hari terakhir. Jumlah kasus kematian menjadi dua kali lipat.

Baca juga:  Atasi Kerinduan Selama Covid-19, Lapas Tabanan Fasilitasi Video Call

Hampir di seluruh Eropa, rumah pemakaman kebanjiran jenazah, dengan berderet-deret peti mati di banyak gereja.

Italia dan Spanyol merupakan dua negara yang paling keras dihantam wabah ini. Total kematian di Italia mencapai 18.849 kasus dan 15.843 kasus di Spanyol.

Kedua negara ini agaknya melihat secercah harapan, setelah puncak kematian harian hampir seribu kasus. Di Italia pada 27 Maret, sedangkan di Spanyol pada 2 April lalu.

Jumlah kematian harian terus menurun. Italia kini mencatatkan kematian 570 kasus per hari dan Spanyol sebanyak 605 kematian.

Kondisi itu tidak terjadi di Inggris. Jumlah kematian harian Inggris tercatat sebanyak 980 jiwa. Ataupun Belgia yang mencatatkan peningkatan kematian harian menjadi 496 kasus.

Sementara itu, virus ini sepertinya menyebar lebih cepat di Amerika Serikat (AS), khususnya di New York. Jumlah terinfeksi di AS sudah melampaui Italia, dengan 160 ribu kasus. Khususnya di New York, jumlah kasusnya sekitar 93 ribu pasien.

Hampir sebanyak 28 persen dari kasus infeksi COVID-19 dunia dilaporkan terjadi di AS. Berdasarkan permodelan statistik yang dilakukan Institut Metrik dan Evaluasi Kesehatan (IHME), dengan mempertimbangkan bagaimana epidemi ini menyerang China dan Eropa, telah melakukan revisi terhadap jumlah kematian yang kemungkinan terjadi di AS. Jika sebelumnya mereka memprediksi 93 ribu kematian, direvisi menjadi 82 ribu kematian, kemudian direvisi lagi menjadi 60 ribu kasus.

Setelah Italia, AS, dan Spanyol, negara terdampak COVID-19 lainnya adalah Prancis dengan jumlah kematian mencapai 13.197 orang, Inggris sebanyak 8.958 kasus, Iran dengan kematian 4.232 jiwa, dan China daratan sebanyak 3.336 kasus. (Diah Dewi/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.