RSUP Sanglah mendapatkan izin untuk mengoperasikan alat kesehatan linac dari Bapeten. (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – RSUP Sanglah kini bisa menangani pasien radioterapi lebih banyak. Pasalnya, RS ini telah mendapatkan izin mengoperasikan alat kesehatan Linac dari Bapeten.

Dokter Spesialis Onkologi Radiasi RSUP Sanglah dr. Ngakan Putu Daksa Ganapati, Sp.Onk.Rad. menjelaskan, penggunaan alat yang menghasilkan radioaktif harus seizin Bapeten. Sebelumnya RSUP Sanglah melakukan radioterapi dengan menggunakan kobalt.

Alat tersebut hanya ada satu di Bali yaitu di RSUP Sanglah. Dengan terbatasnya adalat radioterapi membuat pasien kanker yang harus melakukan radioterapi, mengantre panjang.

Di RSUP Sanglah, dengan satu alat kobalt itu saja menangani hingga 70–80 pasien. Terapi dilakukan selama 20–25 menit.

Pelayanan dibagi menjadi dua shift yaitu shift pagi dan sore. Shift sore, pelayanan radioterapi selesai sekitar pukul 20.00 WITA.

Sementara pasien kanker harus melakukan radioterapi selama 5 hari berlangsung selama 5-7 minggu. Sehingga 70–80 pasien tersebut dilayani dalam waktu lebih dari sebulan.

Sedangkan pasien yang mengantre untuk melakukan radioterapi sebanyak 600-an pasien. Sehingga pasien bisa mengantre sampai 3–4 bulan.

Namun dengan adanya alat linac ini, diyakini RSUP Sanglah dapat melayani lebih banyak pasien radioterapi yaitu 100-an pasien per hari. Sehingga waktu antre bisa lebih pendek.

Baca juga:  Gunarsa Punya Tiga Riwayat Penyakit, Dirawat Tiga Dokter Spesialis

Daksa menjelaskan, efek terapi dengan menggunakan kobalt atau linac sama. Hanya saja dengan linac, teknik radioterapi bisa lebih canggih yaitu dosis bisa diberikan lebih maksimal ke daerah tumor dan mengurangi dosis yang tidak perlu pada jaringan sehat. “Jadi mengurangi risiko efek samping, alat ini juga lebih presisi (lebih akurat). Karena keakuratan ini, kita bisa berikan dosis yang lebih tinggi dan efek samping lebih rendah,” jelasnya.

Sumber radiasi kobalt berasal dari alami, sedangkan linac dihasilkan dari listrik, sehingga dengan menggunakan linac pihaknya tidak perlu memikirkan pembuangan sumbernya. “Kalau kobalt, lima tahun kita harus mengurus pembuangan, pengembalian sumber ke Batan, itu perlu biaya dan perlu waktu,” jelasnya.

Ia juga menyebut, terapi ini dibiayai BPJS Kesehatan.

Dari sisi SDM, RSUP Sanglah juga menyiapkan SDM yang mengoperasikan alat tersebut dengan cara mengadakan pelatihan internal serta mengirim beberapa personil untuk mengikuti pelatihan di RSCM yang merupakan pusat rujukan pelayanan radioterapi di Indonesia. (Citta Maya/balipost)