Sejumlah warga menggunakan masker menundukkan kepala mengheningkan cipta mengenang pasien dan tenaga medis yang meninggal akibat COVID-19 di Tiongkok. (BP/AFP)

WUHAN, BALIPOST.com – Tiongkok merupakan negara pertama yang terdampak merebaknya virus corona (COVID-19). Bahkan, akibat penyebaran virus itu, ribuan orang meninggal, termasuk tenaga medis di Tiongkok.

Untuk mengenang para pasien dan tenaga medis yang meninggal akibat COVID-19 ini, China melakukan hening sejenak pada Sabtu (4/4). Hening dilakukan selama 3 menit di seluruh Tiongkok, demikian dikutip dari AFP.

Pada pukul 10.00 pagi waktu setempat, semua warga hening, mobil, kereta api, dan kapal laut membunyikan klakson dan alarm dibunyikan untuk mengenang 3.000 jiwa yang meninggal karena virus ini di Tiongkok.

Di Wuhan, kota tempat dimana virus itu muncul pada akhir 2019, sirine dan klakson berbunyi seiring warganya mengheningkan cipta.

Staf di RS Tongji berdiri di luar dengan kepala tertunduk menghadap gedung utama rumah sakit itu, beberapa menggunakan baju hazmat, yang merupakan simbol dari krisis yang melanda dunia. “Saya merasa berduka untuk para kolega dan pasien yang telah meninggal,” kata seorang perawat di RS Tongji, Xu, sambil menahan tangis.

“Saya harap mereka bisa beristirahat dengan tenang di surga,” ujarnya.

Cuplikan dari media milik negara memperlihatkan Presiden Tiongkok Xi Jinping dan pejabat pemerintahan lainnya berdiri di luar kompleks gedung pemerintahan di Beijing. Semuanya mengenakan bunga putih.

Baca juga:  Soal Virus Corona, Sesepuh TNI Angkat Bicara

Sementara itu, di Taman Tianamen, bendera nasional dipasang setengah tiang, dikelilingi pasukan bersenjata.

Sejumlah pejabat mengatakan bahwa acara mengheningkan cipta ini merupakan kesempatan untuk berduka bagi para martir, sebuah istilah yang disandangkan bagi 14 tenaga medis yang meninggal melawan wabah ini.

Mereka termasuk Li Wenliang, seorang doktor dan whistleblower di Wuhan yang diperingatkan oleh pihak berwenang karena berusaha untuk mengingatkan warga yang lain, saat wabah tersebut masih dalam fase awal penyebaran. Kematian Li karena COVID-19 pada Februari lalu membuat banyak belasungkawa mengalir di negara itu dan kemarahan atas cara pemerintah dalam menghadapi krisis ini.

Bahkan dalam investigasi yang dilakukan pemerintah pusat terhadap kematian Li, disimpulkan bahwa almarhum telah dihukum secara tidak adil oleh kepolisian Wuhan.

Meskipun Hubei sudah dikarantina pada akhir Januari, epidemi itu sudah menyebar dan menjadi pandemi dengan jumlah kasus mencapai sejuta lebih.

Beberapa pembatasan di Hubei telah dikurangi dalam beberapa minggu terakhir, setelah laporan kasus baru di Tiongkok turun hingga mendekati nol. (Diah Dewi/balipost)