Prof. Ratminingsih. (BP/Istimewa)

Oleh: Prof. Dr. Ni Made Ratminingsih, M.A.

Hari raya Nyepi Çaka 1942 jatuh pada hari Rabu tanggal 25 Maret 2020. Sebelum perayaan hari tersebut, semua krama Bali (baca : masyarakat Bali) tanpa kecuali tua muda, besar kecil dengan penuh euforia melakukan berbagai persiapan sejak sebulanan yaitu membuat ogoh-ogoh, sebuah patung raksasa yang melambangkan bhuta kala (kekuatan jahat) yang diarak pada hari Pangerupukan, pada sore hari sebelum hari raya Nyepi.

Makna simbolis dari pengarakan ogoh-ogoh tersebut adalah mengusir kekuatan jahat yang dapat mengganggu bumi dan makhluk hidup di alam semesta ini. Sementara itu, COVID-19 dapat diumpamakan sebagai ogoh-ogoh milenial, kekuatan jahat yang justru tidak kelihatan (virtual), bersifat pandemik yang membahayakan siapa saja tanpa terkecuali dalam waktu yang begitu cepat.

Virus ini tidak perlu diarak seperti mengarak ogoh-ogoh riil. Jadi manusia diibaratkan perang, tetapi dengan musuh yang tidak kelihatan, sehingga sangat sulit untuk menang apalagi kalau kita ceroboh. China dan Italia, dua negara maju di Asia dan Eropa yang notabene punya fasilitas canggih dan memadai serta obat-obatan yang berkualitas sangat bagus keteteran menghadapi kehadirannya. Bagaimana dengan kita di Indonesia atau Bali khususnya? Sudahkah siap menghadapi serangannya?

Karya seni kreatif yang dibuat para generasi muda dalam bentuk ogoh-ogoh (patung berukuran besar) menjelang Nyepi tersebut pastinya memiliki nilai seni yang tinggi, sehingga penghargaan yang diberikan dari pemerintah patut diberikan. Tidak mesti penghargaan tersebut dilakukan dengan mengizinkan pengarakan, tetapi bisa berupa hadiah.

Bila pun mesti harus diarak, maka perlu dipikirkan timing kapan diaraknya. Tentu menyesuaikan dengan hari besar baik sifatnya keagamaan atau hari besar nasional dalam kurun waktu yang terbilang sudah aman.

Saat Nyepi itu, umat Hindu diwajibkan untuk melaksanakan Tapa Brata Panyepian, yang terdiri atas empat larangan yaitu Amati Geni, Amati Lelungan, Amati Lelanguan, dan Amati Karya. Amati Geni adalah tidak menggunakan api, Amati Lelungan bermakna tidak melakukan perjalanan ke mana pun. Amati Lelanguan dimaksudkan tidak melakukan kesenangan-kesenangan tertentu, seperti main game/gadget, judi, nonton TV dan lainnya. Terakhir adalah Amati Karya merupakan larangan untuk tidak bekerja hanya dalam satu hari saja.

Inti sari dari keempat brata tersebut adalah umat Hindu diwajibkan untuk lebih reflektif dalam setiap perilaku dan tindakan yang telah dilakukan, sehingga pada tahun baru dapat menjadikan dirinya manusia yang lebih baik.

Baca juga:  Dirawat Sehari, Begini Kondisi Pasien Pengawasan Corona RSD Mangusada

Bagaimana hubungannya Nyepi dengan COVID-19? Pada masa pandemik ini, Presiden RI Jokowi telah menegaskan tiga hal penting yaitu Kerja dari Rumah, Belajar dari Rumah, dan Ibadah dari Rumah. Kebijakan tersebut memiliki benang merah dengan hari raya Nyepi dalam hal Amati Lelungan agar semua penduduk tidak melakukan perjalanan ke mana pun, apalagi harus berkerumun dalam keramaian, sehingga social distancing wajib dilakukan melalui bekerja dan belajar dari rumah melalui online.

Amati Lelungan zaman COVID-19 kali ini tidak hanya dilakukan satu hari, namun sampai dengan akhir April 2020. Tidak bepergian keluar rumah jika tidak terlalu penting merupakan cara untuk menghentikan penyebaran virus “jahat” tersebut.

Amati Lelanguan ini diperuntukkan untuk bekerja dan belajar dari rumah, bukan dimanfaatkan untuk liburan dan bersenang-senang (amati lelanguan). Kesenangan sesaat ini justru dapat berakibat fatal. Masyarakat mestinya mawas diri (kontrol diri) untuk tidak melanggar aturan tersebut, bila tidak ingin membahayakan diri, keluarga atau orang lain di sekelilingnya.

Jadi, masyarakat hendaknya sadar bahwa waktu yang ditentukan oleh pemerintah berdiam diri di rumah merupakan masa ‘’kritis’’ yang mesti kita taati bersama agar kita selamat dari marabahaya. Tentu kita juga tidak lupa ibadah atau bersembahyang dari rumah, tidak perlu bepergian ke tempat-tempat ibadah yang penuh keramaian, agar virus juga tidak menyebar dan berdampak buruk kepada kita.

Wyapi Wyapaka Nirwikara, yang bermakna Tuhan Yang Maha Kekal dan Abadi meresap dan berada di mana-mana menjadi pembelajaran yang berharga untuk kita semua pada situasi pandemik ini, agar kita lebih memusatkan aktivitas di rumah. Jadi, bersembahyang dari rumah pun sama signifikannya dengan di tempat ibadah publik.

Bila itu dilakukan dengan tulus, hati bersih, dan berserah diri sepenuh hati kepada-Nya pasti akan berdampak sama dengan sembahyang di tempat ibadah publik dan dengan demikian kita bisa mencegah penularannya dan terbebas dari COVID-19. Ini adalah pembelajaran baru dalam mengelola kehidupan. Semoga umat manusia dari semua belahan bumi manapun segera terbebas dan terselamatkan dari ogoh-ogoh virtual mahasakti ini dan bumi beserta isinya selamat dari kehancuran.

Penulis, Dosen Prodi Pendidikan Bahasa Inggris Undiksha, Singaraja, Bali

BAGIKAN